Kamis, 11 Februari 2010

Audit dan Manajemen Energi bagi Bangunan di Indonesia

Beberapa bulan belakangan ini kita merasakan bagaimana seringnya terjadi pemadaman bergilir yang dilakukan oleh  PLN baik di daerah maupun kota besar. Salah satu faktor hal itu terjadi ialah semakin meningkatnya konsumsi listrik dari masyarakat yang tidak dibarengi dengan upaya meningkatkan kapasitas daya. Upaya peningkatan kapasitas daya adalah upaya yang sulit jika tidak adanya sumber energi yang baru. Maka Pemerintah dan lembaga-lembaga yang terkait telah melakukan berbagai cara untuk menanggulangi permasalahan energi salah satunya adalah diversifikasi energi yang meliputi pemakaian energi alternatif dengan memanfaatan limbah menjadi biogas, biodiesel, biomass, pengembangan energi angin, energi panas bumi (geothermal), dan pembangkit micro dan picohidro. Fuel cell meliputi pengembangan hidrogen dari air maupun air laut sebagai bahan bakar alternatif.
Di lain sisi masyarakat dan pengguna listrik pun dapat membantu pemerintah untuk menanggulangi permasalahan energi yaitu dengan upaya penghematan energi. Namun sayangnya Sektor industri dan perkantoran sebagai konsumen terbesar dari PLN masih kurang menyadari akan pentingnya penghematan energi. Belum adanya peraturan yang tegas bisa jadi merupakan faktor dari kurang suksesnya program penghematan energi yang digalakan oleh pemerintah.
Sementara itu, Energy Conservation Center of Japan (ECCJ) telah melakukan suatu survei atau audit energi pada perhotelan dan bangunan komersial. Berdasarkan hasil audit yang dilakukan, mereka memaparkan bahwa faktor mendasar yang menentukan keberhasilan penghematan energi adalah desain bangunan, manajemen energi, dan komitmen pimpinan. (Anonim, 2007).
Audit energi sebenarnya merupakan teknik yang digunakan untuk mengetahui pola pengunaan energi dan menghitung besarnya konsumsi energi pada bangunan gedung untuk kemudian menganalisa potensi penghematannya, kemudian memberikan rekomendasikan cara terbaik dalam mengurangi penggunaan energi. Sehingga nantinya, dapat mengurangi biaya-biaya yang harus ditanggung oleh konsumen, baik itu bangunan komersial, kantor pemerintah, maupun industri.
Setelah dilakukan audit energi pada suatu bangunan maka kemudian dilakukan upaya manajemen energi. Manajemen energi ialah kegiatan untuk mengelola penggunaan energi secara effisien dan efektif yang sebelumnya telah di rekomendasikan oleh tim audit energi. Beberapa contoh  program manajemen energi yaitu pengaturan jam penggunaan operasi peralatan industri dan peralatan elektronik dan pembuatan stiker maupun slogan hemat energi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar