Senin, 22 November 2010

Bahan Bakar Tuak

Pada saat artikel ini turun tulis maka Yahoo Search Engine memunculkan 1570 temuan, sementara Google Search Engine dengan kata kunci ‘bahan bakar tuak’ akan ada sejumlah 8130 temuan yang membahas mengenai ‘tuak sebagai bahan bakar’. Berbagai media online termasuk Metro TV menurunkan beritanya sebagai sebuah temuan yang disambut baik oleh masyarakat.
Tak kurang, Mudji Slamet – Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Pemerintah Kabupaten Tuban banyak menerima kedatangan Tokoh Masyarakat, Kepala Desa, dan anggota masyarakat dari berbagai kecamatan di Kabupaten Tuban seperti Kecamatan Plumpang, Palang, Tambakboyo dan lainnya untuk mencari tau proses pembuatan bahan bakar (BB) dari tuak yang selama ini hanya dikenal sebagai minuman rakyat terutama masyarakat Batak dan sebagai bahan pembuat gula-merah. Bahkan Bupati Tuban – Haeny Relawati – merekomendasi proses uji coba tuak menjadi etanol masuk dalam kurikulum pendidikan.
Memang luar biasa sambutan masyarakat apabila ada temuan baru yang berkaitan dengan BB sebagai penghasil enerji, soalnya walaupun Bumi Indonesia yang sangat kaya dengan berbagai sumber enerji namun masyarakatnya seolah tidak pernah diuntungkan dengan kekayaan Ibu Pertiwi tersebut. Lalu muncullah berita-berita heboh bila berkaitan dengan temuan baru yang berkaitan dengan BB.
Presiden SBY Sedang Mengamati Blue Energi
 Kita belum lama dihebohkan dengan temuan BB yang disebut Bayu Geni dimana katanya airlaut dapat dijadikan sebagai BB pengganti bensin oleh seorang bernama Joko Suprapto. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui rektornya sangat antusias menyambut penemuan mas Joko ini, bahkan membuat proyek yang melibatkan banyak kaum intelektual di UMY dan akan mem-paten-kan penemuan ini dengan nama ‘Banyugeni’.  Bukan hanya itu, Joko Surapto cs bisa meyakinkan Presiden SBY mengenai temuan bahan bakar berbahan baku air lewat staf khusus Presiden, Heru Lelono. Temuan blue energy Joko Suprapto ini pun sudah direspons dengan pembangunan pabrik blue energy di Cikeas, 2 KM dari rumah SBY, oleh PT. Sarana Harapan Indo (SHI) Corp. Akhirnya dikatakan temuan ini adalah penipuan.
Sebenarnya ‘air’ sebagai BB sudah diketahui secara science dipatenkan sekitar tahun 1917 lalu. Secara teoritis ‘air’ menjadi BB sudah mempunyai Hak Paten oleh Stanley Meyer yang berlaku selama 90 tahun. Pada tahun 2007 Hak Paten ini berakhir dan teori yang dipatenkan oleh Stanley Meyer ini menjadi ‘public domain’ sehingga banyak universitas dan institusi riset di dunia berlomba-lomba untuk menciptakan alat yang mampu menghasilkan enerji dari air menjadi BB yang dapat di aplikasikan pada kendaraan.
Foto Ujicoba HydroActor
Sebenarnya pada September 2007, penulis sudah berhasil melakukan percobaan pembuatan alat berdasarkan teori Stanley Meyer penghasil energi BB dari bahan air (H2O2) yang dapat diaplikasikan pada kendaraan. Alat tersebut dinamai penulis ‘HydroActor’ dan berhasil diujicobakan pada mobil dan sepeda motor dengan hasil uji stasioner mencapai pengiritan BB bensin sebesar 35% (tiga puluh lima persen). Percobaan tersebut juga membuat 4 buah prototype yang berbeda untuk mendapatkan penyempurnaannya. Kalau Joko Suprapto meng-klaim menghasilkan BB yang disebut Banyugeni (berwujut minyak), maka penulis hanya menciptakan sebuah alat sederhana dinamai HydroActor yang memproses air penjadi BB dengan metode berdasarkan teori yang dikembangkan oleh Stanley Meyer yaitu merubah air (H2O2) terurai menjadi Hidrogen (H2) dan Oksigen (O2), dimana Hidrogen secara teknis adalah BB dan Oksigen adalah sebagai zat pembagar dan keduanya dapat dimanfaatkan sebagai energi dalam sistim penggerak seperti mobil dan motor. Namun sayang. alat ini (HydroActor) untuk sementara belum dikembangkan lebih lanjut oleh karena momen keseriusannya pada saat itu terusik oleh kasus Banyugeni yang dianggap penipuan oleh Joko Suprapto.

Data Test HydroActor
Di awal tahun ini ada pula penemuan baru BB alternative yang disebut ‘Pasok Geni’ yang diciptakan oleh tim Mahasiswa Teknik Mesin Universitas Tidar Magelang yang menyebut kelompoknya dengan sebutan ‘Pijar’ (Pencinta Innovasi Tidar) yang menurut pengakuannya sudah dilakukan penelitiannya sejak 5 bulan lalu, ujar salah seorang penemu bernama Agus Muhaimin. Temuan ini mengandalkan pencampuran antara 1 liter bensin Pertamax Plus + 3 liter bensin Premium + 40 mili liter Etanol 96% + 40 mili liter Zat Super Additive yang menjadi kunci kerahasiaannya, katanya. Adapula catatannya bahwa etanol campurannya katanya harus yang terbuat dari tebu pula dan kalau dari produk bahan lain dikatakan kurang baik, ini perlu pula dipertanyakan secara teknis? Menjadilah BB yang disebut Pasok Geni yang disebutkan dapat menghemat 6-20% BB dan mengurangi emisi gas negative sebesar 50%. Menurut Jarot Hari Astanto sebagai dosen pembimbing Tim Pijar, setelah dana dari Program Kreativitas Mahasiswa Universitas Tidar turun, Pasok Geni akan diproduksi lebih banyak untuk dibagikan gratis kepada masyarakat. “Sebagai bentuk perkenalan dan juga pengabdian untuk masyarakat,” jelasnya. Harga Pasok Geni dikatakan berkisar Rp 6.300 per liternya.
Memang akan menjadi luar biasa sambutan masyarakat bila sesuatu hal yang berkaitan dengan BB. Akan tetapi perlu pula disikapi terhadap berbagai temuan tersebut apa benar dapat menjadi sesuatu yang berguna dan menguntungkan bagi masyarakat atau hanya sebatas upaya penipuan dan pembodohan, tentu memerlukan pembuktian dan waktupun akan menjadi parameter pengujiannya.
Temuan-temuan yang dipaparkan diatas sebenarnya secara sederhana dapat kita hitung berdasarkan nilai ekonomisnya. Coba kita hitung nilai ekonomis untuk produk-produk temuan tersebut:
Pasok Geni:
Formulasi: Bensin Premium = 3 liter x @Rp 4.500 = Rp 13.500; Bensin Pertamax Plus = 1 liter x @Rp 6.000 = Rp 6.000; Etanol = 40 ml = 0,04 liter x @Rp 10.000 = Rp 400; Super Additif (Katanya rahasia) = Rp X; Total biaya BB per 4 liter adalah 19.900 + X = Rp 6.300/liter; Maka harga bahan Additive rahasia:
  • X = Rp 6.300 – Rp 19.900/4 liter
  • X = Rp 6.300 – Rp  4.975
  • X = Rp 1.325 (bahan additive + proses produksi)
Pada efisiensi yang diperoleh 6% – 20% bila diambil efisiensi rata-rata menjadi sebesar 6% + (20%-6%)/2 = 6% + 7% = 13% saja, atau nilai BB Pasok Geni setara Rp 6.780 dibanding bensin Pertamax Plus.
Dengan penggunakan Bensin Pertamax Plus yang berharga Rp 6.000 maka harga BB Pasok Geni setara senilai Rp 6.780, artinya dengan menggunakan BB Pasok Geni diperoleh keuntungan senilai Rp 6.780 – Rp 6.300 = Rp 480, nilai riel sebenarnya hanya sebesar 8% saja dari bensin Pertamax Plus.
Apabila efisiensi 13% ini diberlakukan untuk perhitungan bensin Premium yang berharga Rp 4.500 maka nilai BB Pasok Geni sebenarnya senilai Rp 5.085, yaitu harga nilai tambahnya dibawah harga BB Pasok Geni, malah sudah rugi sebesar Rp 6.300 – R 5.085 = Rp 1.215. Yang lebih parah lagi bila efisiensi yang dicapai hanyalah sebesar 6% maka nilai harga BB Pasok Geni seharusnya hanya sebesar Rp 4.770, sehingga kerugian membeli BB Pasok Geni menjadi senilai Rp 6.300 – 4.770 = Rp 1.530. Ini artinya pengguna Premium akan dirugikan sebesar 34% bila menggunakan BB Pasok Geni.
Lalu, bila kalkulasi ini yang terjadi, apakah BB Pasok Geni masih memiliki nilai tambah? Apakah ada tendensi penipuan bila efisiensinya diperbandingkan dengan penggunaan Premium? Karena perhitungannya ternyata mengalami kerugian mencapai 34% bagi pengguna Premium.
Dari sebuah artikel tentang etanol di indonesiaenegiwatch.com yang di-posting pada 9 Maret 2009 ternyata teknik campur mencampur seperti ini sudah tercipta berdasarkan pengalaman campur mencampur oleh tukang ojek di Cicurug – Sukabumi. Lalu apapula yang dimaksud bahan Super Additive rahasia? Apakah Tim dari Universitas Tidar Magelang ini hanya mengadopsi metode tukang ojek yang disebutkan pada artikel di situs Indonesia Energy Watch di atas?
Banyu Geni:
Apabila Pasok Geni yang memang terkesan teknis dan logis karena hanya mengandalkan teknik campur mencampur BB yang ada beredar dipasaran, plus  Super Additive yang disebut dirahasiakan, apalagi dilakukan oleh Tim dari universitas maka kesan pengecohannya tidak terlihat, namun dari kalkulasi ekonomisnya ternyata jauh panggang dari api, atau mungkin saja mereka kurang cermat menghitungnya.
Kalau kasus Banyu Geni yang sudah diissukan sebagai penipuan yang sampai mengecoh para cerdik-cendekia di universitas dan bahkan kalangan petinggi Negara dan katanya sudah dipresentasikan kepada presiden SBY yang dikenal dengan Proyek Blue Energy nya menjadi tergiur sehingga sebuah perusahaan  sempat berdiri bernama PT. Sarana Harapan Indonesia Corp. dan pabrik BB-nya di Cikeas, sekitar 2 km dari rumah Presiden SBY, dan nama Joko Suprapto tercantum juga disitu.
Belum lagi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui rektornya yang menyebutkan bahwa Banyugeni terinspirasi dari ayat-ayat Al-Qur’an, ternyata meneken kontrak pula dengan Joko Suprapto membuat pembangkit listrik Jodhipati yang dikatakan dapat menghasilkan daya listrik 3 MW melalui PT. Mentari Prima Karsa dibawah naungan UMY ternyata bohong belaka. Akhirnya rektor UMY dan beberapa pejabatnya mengundurkan diri karena memang tertipu secara konyol. Anehnya yang terlibat dengan PT. di Cikeas belum diketahui ada yang mengundurkan diri. Tidak tanggung-tanggung pula pamor Banyugeni ini sehingga Portal Indonesia di www.indonesia.go.id menampilkannya dan coba and baca disini>>>.
Kalau ada yang bertanya; apa benar air dapat menjadi BB? Maka jawabnya memang ‘bisa’. Lalu mengapa Banyugeni menjadi unsur penipuan? Jawabnya adalah bahwa semua orang yang berada disekitar topik Banyugeni, baik para intelektual penelitinya, para pejabatnya, para penipunya, sangat jelas tidak tau apa yang dimaksud antara Bahan Bakar (BB) dengan Bahan Bakar Minyak (BBM), sehingga otak mereka hanya mewujudkan bentuknya sebagai ‘minyak’ (hidrokarbon) dan otak tersebut belum mampu menggambarkan wujud tersebut merupakan cairan atau gas yang disebut Hidrogen (cair/gas) dan Oksigen (cair/gas) atau non-hidrokarbon yang memang sangat gampang diperoleh dari air, ya air yang kita kenal sehari-hari.
Maka terjadilah penipuan oleh tokoh penipu seperti Joko Suprianto Cs yang mengaku mampu menghasilkan BB (maksudnya minyak), yang awalnya dikatakan dari air laut. Lalu Joko Suprapto membawa minyak yang diperolehnya dari air laut itu ke UMY dan di test aplikasinya dan dibawa ke laboratorium. Darimana kemungkinannya minyak itu diperolehnya? Mungkin saja memang benar dari air-laut. Airlaut di pantai terutama disekitar pelabuhan sudah pasti tercemar tumpahan solar, minyak tanah atau bensin yang memang banyak digunakan oleh kapal, sampan, speedboat. Tumpahan cemaran ini terkadang sudah dalam bentuk solutan seperti lumpur terlarut. Apabila airlaut ini dilakukan semacam proses destilasi maka akan diperoleh jenis minyak yang memang berupa hidrokarbon sebagaimana BBM yang umum. Kalau dari unsur air-nya sendiri bahwa BB yang dapat dihasilkan adalah Hidrogen (H2) dan tak mungkin diperoleh unsur minyak (hidrokarbon), seperti misalnya bensin C8H18. Maka tertipulah semua…..
Bahan Bakar Tuak:
Bahan Bakar Tuak maksudnya adalah BB yang dihasilkan dari bahan baku tuak. Lalu apa yang aneh sehingga masyarakat di Kabupaten Tuban menjadi sangat antusias untuk belajar membuat BB itu?
Tuak atau variannya seperti nira secara umum dikenal oleh masyarakat sebagai minuman yang menghangatkan karena sedikit mengandung alkohol. Beberapa daerah menempatkan tuak sebagai minuman khas adalah Tanah Batak (khususnya Toba) dengan istilah Mitu (minum tuak), Tuban, Bali (khususnya Karangasem) dengan istilah Metuakan, Suku Rote dan Suku Sabu termasuk Flores di NTT, Toraja dan Makassar yang menyebut tuak adalah ballo, Suku Dayak di Kalimantan Tengah dengan sebutan minum Baram (melalui proses peragian), dan banyak lagi daerah di Indonesia yang menggemari minum tuak. Minuman yang digemari oleh masyarakat ini berkemampuan menghangatkan badan yang meminumnya karena jenis minuman ini memang mengandung alkohol. Kandungan alcohol atau derivatifnya inilah yang dapat menjadi BB dan salah satunya disebut etanol.
Apabila di Tuban sudah terdata jumlah pohon nira sebanyak 4000 pohon maka dapat diperkirakan jumlah produksi tuaknya dan demikian pula dapat dihitung hasil yang dapat diperoleh setelah menjadi etanol. Tidak demikian halnya di Tanah Batak yang banyak masyarakatnya peminat minum tuak tidak pernah terdata jumlah pohon bagot (aren) sehingga tidak pernah mampu dikalkulasi produksi yang mampu dihasilkan dan bahkan jelas terlihat bahwa untuk konsumsi minuman saja terjadi kekurangan pasokan. Hal ini terlihat pula pada komunitas Batak yang ada di perantauan yang selalu kekurangan pasokan tuak sebagai minuman. Lalu apa mungkin bagi mereka rela mengkonversi tuak menjadi BB?
Etanol dengan rumus molekul C2H5OH memang merupakan hidrokarbon sebagai alternative BB pengganti BBM dari fossil yang sudah lazim dipakai untuk kendaraan atau penggunaan lainnya, jadi kalau tuak dikatakan oleh masyarakat tuban yang berlomba-lomba untuk mempelajari prosesnya yang pada akhirnya hanyalah sebatas menambah pengetahuan saja.
Sebenarnya bahan-bahan dari tanaman yang mampu menghasilkan etanol sudah lama diketahui termasuk tuak bukan lagi hal yang perlu diherankan. Sejumlah hasil tanaman seperti tuak, jagung, gandum, singkong, ubi, kentang, tebu, rumput, bit, dan banyak lagi jenis tumbuhan lainnya mampu menghasilkan etanol melalui berbagai proses seperti hidrolisis, fermentasi, destilasi, dehidrasi, denaturasi dan proses lainnya. Akan tetapi mengapa belum banyak dilakukan oleh masyarakat adalah secara ekonomis masih kurang menguntungkan.
Coba kita buat kalkulasi ekonomisnya bahwa tuak masih lebih bernilai ekonomis bila dipasarkan sebagai konsumsi minuman tuak dibanding apabila harus diproses lagi untuk pembuatan etanol, dengan referensi kasus kehebohan bahan bakar tuak di Tuban:
Untuk mendapatkan 2 liter etanol yang berharga Rp 17.500, dibutuhkan 10 liter tuak. Harga 10 liter tuak di Tuban sekitar Rp 15.000. Konversi 10 liter tuak menjadi 2 liter etanol hanya mendapatkan selisih kotor Rp 2.500 saja. Selisih ini adalah untuk biaya produksi dan keuntungan sudah pasti tidak mendapat nilai tambah apa-apa bagi masyarakat. Apabila kalkulasi ini kita referensikan untuk pasar eceran tuak di Jakarta maka akan semakin jelas terlihat kalkulasi yang merugikan.
Satu liter tuak adalah setara dengan 6 gelas (jenis gelas belimbing besar) tuak. Harga tuak adalah Rp 3.000/gelas di tingkat eceran di Jakarta. Maka untuk 1 liter tuak akan bernilai Rp 18.000. Kalau tuak di Tuban berharga Rp 1.500/liter, maka di Jakarta sudah mendapat nilai tambah sebesar 12 kali lipatnya. Lalu kenapa harus memproduksi etanol yang tidak mempunyai nilai tambah? Apabila gambaran kasar di Jakarta dan sekitarnya serdapat 200-an Lapo (warung tuak) dengan konsumsi minimal 1 jerrycan (@25 liter) maka konsumsi masyarakat Batak Jakarta dan sekitarnya mampu menyerap sebanyak 5.000 liter tuak atau setara dengan berat 5 ton tuak dalam sehari. Apabila volume pasar ini dikonversi menjadi etanol sejumlah 1.000 liter yang hanya bernilai setara Rp 8.750.000 (delapan juta tujuh ratus lima puluh ribu), maka bila sebagai konsumsi minuman orang Batak nilainya akan setara Rp 90.000.000 (sembilan puluh juta rupiah) setiap hari. Lalu apakah Kabupaten Bantul masih mau memproduksi etanol?
Kajian ekonomis sederhana lainnya sebenarnya sudah dipaparkan dalam sebuah artikel di situs ini, tetapi coba ditelusuri ulang disini. Selain daripada memproduksi etanol dari tuak, mungkin masih lebih bernilai tambah bila tuak dijadikan sebagai gula merah, crystal brown-sugar, vinegar. Oleh karena itu, bagi orang Batak baik di bonapasogit (tanah asal) atau diperantauan, hampir dapat dipastikan tidak tertarik dengan heboh bahan bakar tuak, dan mungkin masih lebih tertarik dengan Mitu (minum tuak) disamping sebagai bahan bakar tubuh juga tuak tetap lestari sebagai salah satu penganan dalam sebuah prosesi adat-istiadat.

source : naipospos » Bahan Bakar Tuak.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar