Penyerapan energi panas matahari dimanfaatkan oleh atmosfer bumi sebagai suatu penyimpanan energi thermal. Energi angin timbul sebagai gerak konveksi dari atmosfer yang timbul ke energi kinetik meskipun jumlahnya tidak terlalu besar.
Kemudian, Hubbert melakukan perkiraan bahwa konveksi arus yang ditimbulkan oleh lautan dan atmosfer bergabung membentuk suatu energi, yang bila dimanfaatkan dapat memenuhi 3% kebutuhan energi dunia pada tahun 1972.
Tenaga Total
Tenaga total aliran angin adalah sama dengan laju energi kinetik aliran yang datang, K Ei
P_(tot )=m KE_i=m (V_i^2)/(2g_c )
Dimana, Ptot = Tenaga total (watt atau ft-lbf)
m = Laju aliran massa (Kg/s atau lbm/jam)
Vi = Kecepatan aliran (m/det atau ft/jam)
gc = faktor konversi = 1,9 Kg/N.s2
atau 4,17 x 108 lbm- ft/lbf-jam
laju aliran massa diberikan oleh persamaan kontinuitas
m= ρ A V_i
Dimana, ρ = massa jenis angin (Kg/m3 atau lbm/ft3 )
A =Luas penampang melintang aliran (m2 atau ft2)
Sehingga,
P_(tot )= 1/(2g_c ) ρ A〖 V〗_i^2
Tenaga maksimum
Dari persamaan tenaga total, asumsikan massa jenis udara konstan, tidak ada perubahan energi potensial, dan tidak ada kerja dan panas yang ditambahkan atau dibuang. Maka akan diperoleh tenaga maksimum,
P_maks= 8⁄27 g_c ρ A V_i^3
Efisiensi teoritis ideal, atau maksimum (juga disebut power coefficient) dari turbin angin adalah perbandingan tenaga maksimum yang diperoleh dari angin terhadap tenaga total angin:
η_maks= P_maks⁄(P_tot= 16⁄27=0.5926)
Tenaga Aktual
Karena roda turbin angin tidak dapat tertutup sempurna, dan karena sebab lain, dalam praktiknya turbin hanya dapat mencapai 50 – 70% dari effisiensi idealnya.
Efisiensi aktual (η) adalah perkaliannya dengan ηmaks dan adalah perbandingan tenaga aktual terhadap tenaga total;
P= η P_tot= η 1/(2g_c ) ρ A〖 V〗_i^3
Gaya pada Sudu
Gaya pada sudu jenis propeler ada dua macam, yaitu gaya keliling (circumferencial force) arahnya adalah rotasi roda yang mengakibatkan torsi, dan gaya aksial ke arah angin yang menyebabkan gaya aksial (axial thrust).
Gaya, keliling, atau torsi T, diperoleh dari:
T= P/ω=P/πDN
Dimana: T = Torsi (N atau lbf)
= kecepatan anguler roda turbin (rpm)
D = diameter roda turbin = (4A/π)0.5 (m atau ft)
N = putaran roda tiap satuan waktu (S-1)
Untuk turbin yang beroperasi pada P, torsi diberikan oleh:
T= η 1/(8g_c ) (ρDV_i^3)/N
Untuk turbin yang beroperasi pada ηmaks = 16/27,torsi diberikan oleh:
T_maks= 2/(27g_c ) (PDV_i^2)/N
Gaya aksial diberikan oleh:
F_x=2/(2g_c ) ρA(V_i^2-V_e^2 )=π/(8g_c ) ρD^2 (V_i^2-V_e^2 )
Gaya aksial pada roda turbin yang beroperasi pada efisiensi maksimum dimana Ve=1/3 Vi diberikan oleh:
F_(x,maks)=4/(9g_c ) ρAV_i^2=π/(9g_c ) ρD^2 V_i^2
Jumat, 26 November 2010
Konversi Energi dari Limbah Industri Kertas Tanggulangi Masalah Lingkungan
LIMBAH industri yang tidak termanfaatkan menjadi potensi penumpukan limbah yang cukup besar. Jika tidak segera ditanggulangi dpat menjadi masalah lingkungan.
Limbah industri tersebut seperti serbuk gergaji pada industri pengolahan kayu dan Lumpur pada indistri pembuatan kertas. Juga limbah organic dari tumbuh – tumbuhan seperti sekam padi dan sayur – sayuran, “ kata Ir M Affendi, Peneliti energi dari pusat Penelitian Fisika, LIPI Bandung. Limbah – limbah itu disebut bio massa padat yang dapat dikonversi menjadi energi lain, bio massa padat berfungsi sebagai bahan baker alternative yang diubah menjadi energi uap. Konversi energi ini menggunakan alat Fluidized Bed Combustion atau tungku apung dan Fluidized Bed Boiler.
Sebenarnya pengolahan limbah ini tidak menguntungkan secara ekonomi, tetapi lebh ditujukan sebagai penanggulangan terhadap masalah lingkungan. Cukup biaya yang tinggi untuk membuat alat ini daripada memusnahkan tanpa mengambil manfaatnya maka dipergunakan sistem pemusnahan dengan alay ini.
Dengan alat ini limbah Lumpur dari industri pembuatan kertas dapat dimanfaatkan dan dikonversi menjadi energi lain. Karena masih memiliki kandungan serat yang cukup tinggi, Lumpur kertas ini dipisahkan terlebih dahulu airnya,dengan cara disedot dan dikurangi kadar airnya hingga 75 % lalu endapannya ini yang dimanfaatkan.
Sedangkan limbah sayuran kurang efisien untuk dimanfaatkan karena banyak sekali mengandung air dan sangat sulit sekali untuk dibakar.
PENGOLAHAN limbah padat lumpur kertas untuk diubah menjadi tenaga uap panas menggunakan alat Fluidized Bed Combustion ( FBC ) atau tungku unggun fluidisasi karena bahan baker yaitu Lumpur kertas yang berasala dari IPAL ( Instalasi Pengolahan Air Limbah ) terus mengalir ke tungku. Disebut tungku apung karena limbah yang dibakar dibakar di dalam tungku apung berkisar antara 400 – 5000C, apabila suhu dibawah 3000C dapat menyebabkan api padam.
Sebelum terjadi pembakaran dengan sendirinya didalam tungku, dilakukan pembakaran awal. Setelah pembakaran didalam tungku berjalan konstan, pembakaran awal tersebut dimatikan. Limbah padat Lumpur kertas ini setelah melalui pembakaran akan menghasilkan zat terbang dan arang. Zat terbang ini terbakar dan menyala dalam waktu singkat dan terlihat sebagai lidah api. Sedangkan pembakaran arang relative lebih lambat. Selanjutnya hasil pembakaran melalui alat penukar kalor atau panas ( heat exchanger ). Hasil pembakaran dan udara diubah menjadi uap yang lebih panas, uap ini yang dimanfaatkan untuk pembangkit listrik ( turbin uap ) atau proses pemasakan diindustri. Proses pemasakan seperti proses digester ( pencerna ) dan heater ( pemanas ) atau dryer ( pengering ). Sedangkan asap hasil pembakaran dibuang melalui cerobong. Nilai kalor proses fluidisasi ini bias mencapai sekitar 3000 kkal / kg
Limbah industri tersebut seperti serbuk gergaji pada industri pengolahan kayu dan Lumpur pada indistri pembuatan kertas. Juga limbah organic dari tumbuh – tumbuhan seperti sekam padi dan sayur – sayuran, “ kata Ir M Affendi, Peneliti energi dari pusat Penelitian Fisika, LIPI Bandung. Limbah – limbah itu disebut bio massa padat yang dapat dikonversi menjadi energi lain, bio massa padat berfungsi sebagai bahan baker alternative yang diubah menjadi energi uap. Konversi energi ini menggunakan alat Fluidized Bed Combustion atau tungku apung dan Fluidized Bed Boiler.
Sebenarnya pengolahan limbah ini tidak menguntungkan secara ekonomi, tetapi lebh ditujukan sebagai penanggulangan terhadap masalah lingkungan. Cukup biaya yang tinggi untuk membuat alat ini daripada memusnahkan tanpa mengambil manfaatnya maka dipergunakan sistem pemusnahan dengan alay ini.
Dengan alat ini limbah Lumpur dari industri pembuatan kertas dapat dimanfaatkan dan dikonversi menjadi energi lain. Karena masih memiliki kandungan serat yang cukup tinggi, Lumpur kertas ini dipisahkan terlebih dahulu airnya,dengan cara disedot dan dikurangi kadar airnya hingga 75 % lalu endapannya ini yang dimanfaatkan.
Sedangkan limbah sayuran kurang efisien untuk dimanfaatkan karena banyak sekali mengandung air dan sangat sulit sekali untuk dibakar.
PENGOLAHAN limbah padat lumpur kertas untuk diubah menjadi tenaga uap panas menggunakan alat Fluidized Bed Combustion ( FBC ) atau tungku unggun fluidisasi karena bahan baker yaitu Lumpur kertas yang berasala dari IPAL ( Instalasi Pengolahan Air Limbah ) terus mengalir ke tungku. Disebut tungku apung karena limbah yang dibakar dibakar di dalam tungku apung berkisar antara 400 – 5000C, apabila suhu dibawah 3000C dapat menyebabkan api padam.
Sebelum terjadi pembakaran dengan sendirinya didalam tungku, dilakukan pembakaran awal. Setelah pembakaran didalam tungku berjalan konstan, pembakaran awal tersebut dimatikan. Limbah padat Lumpur kertas ini setelah melalui pembakaran akan menghasilkan zat terbang dan arang. Zat terbang ini terbakar dan menyala dalam waktu singkat dan terlihat sebagai lidah api. Sedangkan pembakaran arang relative lebih lambat. Selanjutnya hasil pembakaran melalui alat penukar kalor atau panas ( heat exchanger ). Hasil pembakaran dan udara diubah menjadi uap yang lebih panas, uap ini yang dimanfaatkan untuk pembangkit listrik ( turbin uap ) atau proses pemasakan diindustri. Proses pemasakan seperti proses digester ( pencerna ) dan heater ( pemanas ) atau dryer ( pengering ). Sedangkan asap hasil pembakaran dibuang melalui cerobong. Nilai kalor proses fluidisasi ini bias mencapai sekitar 3000 kkal / kg
Fuel Cell Sebagai Energi Alternatif Pengganti BBM
Sel Bahan Bakar
Sel bahan bakar merupakan salah satu energi alternatif yang dapat menggantikan energi primer seperti : Minyak bumi, Batu bara, dan Gas bumi, konsumsi akan energi primer semakin lama semakin meningkat, untuk itu di perlukan sebuah solusi untuk menggantikan energi primer ini karena kita tahu seiring berjalannya waktu konsumsi akan energi primer terus meningkat maka sumber dari energi primer ini akan semakin menipis dan akhirnya akan habis, untuk itu di perlukan sebuah solusi dalam memecahkan tentang problem energi ini. Salah satu dari solusi yang di tawarkan adalah pemanfaatan energi alternatif yang ramah lingkungan dalam hal ini energi alternatif tersebut adalah “Energi Sel Bahan Bakar”.
Sel bahan bakar tersedia dalam jumlah banyak versi, bentuk, dan ukuran.Inti dari sel bahan bakar itu sendiri adalah elektrolit yang memisahkan elektroda(katoda dan anoda). Elektrolit dapat berupa cairan penghantar ion, cairan kental, asam, basa, keramik atau membran. Dengan pemisahan tersebut elektrolit mencegah terjadinya reaksi kimia secara langsung.Pada anoda dislurkan bahan bakar dan pada katoda disalurkan oksidan secara terpisah dan kontinue.Pada anoda dari molekul hydrogen terbentuk electron dan proton bebas. Elektrolit berfungsi sebagai katalisator. Pada sebuah membran, tugas ini diambil alih oleh lapisan platina. Membran ini tidak dapat ditembus oleh molekul maupun elektron, tetapi dapat melewatkan proton. Pada katoda electron bebas habis digunakan. Elektron – electron bebas yang dilepaskan pada sisi anoda harus diantarkan ke katoda melalui sirkuit external agar proses elektrokimia dapat bergabung. Disini mereka dapat bergabung dengan proton yang datang melalui menbran dan oksigen yang di salurkan menjadi molekul air H2O.
Kebanyakan sel bahan bakar mengambil oksigen dari udara panas yang dilepaskan dan air yang terbentuk selalu dikeluarkan dalam ventilator.Karena setiap sel hanya menghasilkan tegangan relatif rendah beberapa sel di bundle menjadi satu yang disebut “stack”. Gambar berikut menggambarkan proses produksi listrik pada sebuah sel bahan bakar sederhana.
Cara Kerja Fuel Cell
Suatu sel bahan-bakar menghasilkan listrik melalui langkah-langkah berikut ini. pertama-pertama hidrogen murni yang biasanya dihasilkan dari suatu bahan bakar seperti gas-alam—diberikan pada kutub positip(anoda), salah satu dari dua electroda pada setiap sel. Proses tersebut membuat atom hydrogen melepaskan elektron mereka, Dan merubah ion hidrogen menjadi bermuatan positif. Berikutnya, ion yang bermuatan positif menerobos suatu asam aki / elektrolit ( yang bervariasi berdasarkan tipe sel bahan-bakar) menuju electrode berikutnya, yang dikenal dengan katode . Sementara itu, elektron yang bermuatan negatif, yang adalah tidak mampu untuk melewati elektrolit tersebut bergerak menuju katode yang menuju suatu sirkuit luar.
pergerakan ini menghasilkan arus elektrik, intensitas tersebut berhubungan dengan ukuran electroda. Di katode, elektron dikembalikan bersama-sama dengan ion mereka dan dikombinasikan dengan oksigen dari udara untuk menghasilkan air. Produk lain adalah sisa panas, yang dalam beberapa aplikasi dipakai dan digunakan kembali.
Tipe-tipe dari Fuel cell
· Alkaline fuel cell (AFC)
Sel bahan bakar alkali pertama kali digunakan pada pesawat luar angkasa Gemini-Apollo untuk menghasilkan air minum dan suplai listrik.
Sel bahan bahan alkali secara umum menggunakan Potassium Hidroksida (secara kimiawi, KOH) didalam air sebagai elektrolitnya serta memiliki suhu operasi 160º F. Daya yang dihasilkan oleh sel bahan bakar alkali berkisar antara 300 watt sampai 5 KW.
· Direct methanol fuel cells (DMFC)
Sel bahan bakar Direct methanol meggunakan methanol untuk menggantikan hydrogen
Effisiensi yang dimiliki sekitar 40% dan Temperatur operasi dari sel bahan bakar direct methanol memiliki cakupan yang sama dengan sel bahan bakar PEM yaitu sekitar 50 sampai 100°C (122 sampai 212°F). effisiensi yang lebih tinggi didapat pada temperature yang lebih tinggi.
Sel bahan bakar methanol sedang dikembangkan untuk peralatan portabel, industri transportasi, serta militer
· Molten carbonate fuel cells (MCFC)
Sel bahan bakar Molten carbonate menggunakan solusi cair dari lithium, sodium, dan atau potassium karbonat yang dicampur didalam sebuah matrix.
Sistem dengan output mencapai 2 MegaWatt (MW) telah dibangun, dan desainnya dapat mencapai 100 MW. Katalisis nickel electrode dari molten carbonate tidak terlalu mahal dibandingkan penggunaan sel bahan bakar lainnya, tetapi dengan temperatur kerja tinggi menjadi masalah material serta unsur safety pada penggunaan MCFC.
Sebuah MCFC sederhana digambarkan di bawah ini
· Phosphoric acid fuel cells (PAFC)
Sel bahan bakar phosporic acid menggunakan phosporic acid sebagai elektrolisis untuk menghasilkan energi listrik.
Effisiensi berkisar antara 40 sampai 80 persen dan temperatur operasi sekitar 150 sampai 200° C (Sekitar 300 sampai 400° F). potensi sel bahan bakar phosporic acid mencapai 200 Kw, dan contoh unit pembangkit 11 Mw telah diuji coba.
· Proton exchange membrane fuel cells (PEM)
Sel bahan bakar PEM memiliki sebuah lapisan membran solid polimer sebagai elektrolitnya.
Sel bahan bakar PEM adalah sel bahan bakar yang paling banyak dikembangkan penggunaanya untuk transportasi. PEM bekerja pada daya 1 kW per liter volumetrik dan menghasilkan tenaga listrik pada temperatur operasi kerja dibawah 100°C (212° F). Sel bahan bakar PEM bereaksi dengan cepat dalam perubahan kebutuhan energi listrik (mampu menyuplai beban mendadak) dan tidak mudah bocor dan mengakibatkan korosi.
PEM merupakan kandidat untuk penggunaan ringan, bangunan, serta aplikasi yang lebih kecil lagi diantaranya pengganti baterai.
Sel bahan bakar PEM menggunakan bahan baku pendukung yang tidak mahal yaitu membran plastik
· Regenerative fuel cells (RFC)
Regenerative fuel cells memisahkan air untuk menghasilkan Hidrogen dan oksigen dengan bantuan energi yang dihasilkan sel surya. Hidrogen dan oksigen dipancing pada regenerasi sel bahan bakar, menghasilkan energi listrik, panas dan air. Air yang dihasilkan kemudian disirkulasikan ulang pada elektrolisis dari sel bahan bakar regenerative dan proses berulang kembali (Proses close loop atau tertutup)
· Solid oxide fuel cells (SOFC)
Sel bahan bakar Solid oxide fuel cells menggunakan bahan yang keras, ceramic coumpound atau logam (seperti kalsium atau zirconium) oksigen (O2) sebagai elektrolit
Daya output dari Solid oxide fuel cells mencapai 100 kW
Gambar diagram dari SOFC
Tabel Karakteristik operasi dari teknologi sel bahan bakar
Manfaat dari fuel cell:
Dengan potensi untuk menyediakan manfaat yang luas baik dalam peralatan portabel, dan keperluan aplikatif lainnya, teknologi sel bahan-bakar telah diteliti oleh pemerintah dan industri selama lebih dari empat dekade. Secara garis besar keuntungan-keuntungan sel bahan-bakar meliputi: 1) efisiensi; 2) fleksibilitas ukuran; 3) keandalan tinggi/ pemeliharaan rendah; 4) rendah emisi; 5) dapat diterima di lingkungan masyarakat; dan 6) fleksibilitas bahan bakar. Sebagai tambahan, sel bahan-bakar juga biasanya memiliki manfaat yang berhubungan dengan pertumbuhan ekonomi.
• Efisiensi--- mampu Untuk mengubah bahan bakar secara langsung ke dalam energi listrik melalui reaksi elektrokimia, sel bahan-bakar dapat menghasilkan kuantitas energi yang lebih besar dibandingkan dengan teknologi pembakaran tradisional. Hal Ini membuat efisiensi bahan bakar lebih tinggi, tergantung pada jenis sel bahan-bakar dan panas berlebih digunakan kembali. Secara sekilas, energi yang dihasilkan oleh pembakaran mengkonversi bahan bakar ke dalam panas, dan kemudian diubah ke dalam daya mekanis, yang menghasilkan gerakan atau putaran untuk menghasilkan energi. langkah- langkah yang berhubungan dengan penggunaan energi pembakaran mengakibatkan rerugi panas, friksi, dan konversi, mengakibatkan efisiensi lebih rendah. Gambar berikut melukiskan cakupan efisiensi bahan bakar pada teknologi generasi listrik yang umum digunakan.
· Fleksibilitas Ukuran--- satu sel bahan-bakar secara khas menyediakan kurang dari satu volt potensi elektrik. Untuk menghasilkan voltase lebih besar, satu sel bahan bakar dikumpulkan dan yang dihubungkan secara seri. sehingga, sel bahan bakar dapat dibangun untuk menyediakan voltase yang sesuai dengan jumlah kebutuhannya tanpa batas aplikasi. Sebagai contoh, beberapa sel(< 1 kW) dapat dikombinasikan untuk aplikasi seperti detektor api, atau beberapa ratus sel bahan-bakar ( 1 MW lebih) dapat dikombinasikan untuk menghasilkan pembangkit tenaga listrik.
· Keandalan tinggi/ pemeliharaan rendah system sel bahan bakar tidak memiliki komponen yang bergerak. Bahkan untuk generasi awal dari sel bahan bakar menyediakan keandalan tinggi
· Rendah emisi --- sejak hanya air yang diproduksi pada reaksi antara hydrogen dan oksigen didalam sel bahan bakar, tidak ada polusi yang dihasilkan apabila digunakan hydrogen murni dalam prosesnya
Kerugian Fuel Cell
Pada pemanfaatan energi fuel cell terdapat beberapa kerugian diantaranya:
- Pemisahan dan pemurnian hydrogen dari air membutuhkan proses yang cukup sulit dan energi yang cukup besar, sehingga untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut terkadang masih membutuhkan energi yang tidak terbaharukan diantaranya batubara.
- Hidrogen merupakan molekul yang mudah bereaksi/ bersenyawa dengan molekul carbon (C) sehingga menyulitkan untuk bereaksi dengan O2 karena hydrogen membentuk ikatan hidrokarbon (CH).
- Beberapa tipe cell bahan bakar bekerja pada temperatur kerja yang tinggi, sehingga berkaitan dengan unsur safety
Kendala dari Fuel Cell
· Beberapa jenis dari fuel cell menggunakan membran yang membutuhkan biaya penelitian yang mahal, sehingga fuel cell masih belum optimal penggunaanya sebagai proses produksi listrik terutama untuk negara berkembang
· Proses produksi energi listrik dari sel bahan bakar membutuhkan waktu yang cukup lama dibandingkan dengan energi alternatif dan non-alternatif lainnya seperti energi angin dan energi surya.
Prospek Fuel Cell di Indonesia
Sel bahan bakar diindonesia saat ini masih belum banyak dikembangkan walaupun ada beberapa perusahaan yang mengembangkan energi alternatif ini serta karena SDM di Indonesia masih kalah dalam pengalaman serta pengetahuannya. Selain itu dana yang dibutuhkan sangat besar.
Selasa, 23 November 2010
Metode Load – Unload Untuk Menentukan Jumlah Kebocoran Dalam Kompresor ATLAS COPCO TYPE ZR 5 – 52
Kompresor ATLAS COPCO TYPE ZR 5 – 52 yang terdapat di bagian utility, menggunakan sistem pengendali load – unload. Ada satu metode yang saya usulkan guna mengetahui / menentukan jumlah kebocoran dalam system kompresor tersebut. Metode ini meliputi penyalaan kompresor pada saat tidak ada kebutuhan pada sistem ( seluruh peralatan penggunaan akhir yang dioperasikan dengan udara dimatikan).
Kompresor akan menyala pada saat load, kemudian akan mati pada saat unload. Kompresor akan load atau unload karena adanya kebocoran udara yang akan menyebabkan terjadinya siklus menyala dan mati pada kompresor, karena kompresor akan menyala / load ketika tekanannya turun, karena lolosnya udara melalui kebocoran.
Kebocoran total (%) dapat dihitung dengan rumus berikut :
t1/(t1+t2)x 100
Kebocoran (%) :
Dimana,
t1 : Waktu Load ( detik )
t2 : Waktu Unload ( detik )
Kebocoran akan dinyatakan dalam bentuk persentase (%). Jumlah kebocoran … > 10 % dari kapasitas udaranya, dikategorikan sistem terawat dengan baik. Jika kebocoran 10 % < 19 % dari kapasitas udaranya, dapat dikategorikan sistem terawat dengan baik. Jika kebocoran mencapai 20 % < …. Dari kapasitas udaranya, maka dikategorikan sistem perawatannya buruk.
Prosedur
1. Uji kebocoran dilakukan bila keseluruhan pabrik dimatikan.
2. Kompresor dinyalakan untuk mengisi jaringan sistem dengan udara tekan.
3. Unit kompresor akan unload pada saat tekanan sistem mencapai titik pengaturan ( set point ).
4. Jika tidak ada kebocoran pada sistem, kompresor ini akan tetap unload.
5. Tapi, jika ada kebocoran sistem, tekanan sistem secara berangsur – angsur mulai turun mencapai titik pengaturan bawah, dimana kompresor akan load lagi dan mulai menghasilkan tekanan.
6. Waktu load dan unload diukur dengan menggunakan stopwatch dan diulang sebanyak 5 – 6 x dan kemudian dirata – ratakan.
7. Jumlah kebocoran yang didapat, dapat dievaluasi bersama.
Kompresor akan menyala pada saat load, kemudian akan mati pada saat unload. Kompresor akan load atau unload karena adanya kebocoran udara yang akan menyebabkan terjadinya siklus menyala dan mati pada kompresor, karena kompresor akan menyala / load ketika tekanannya turun, karena lolosnya udara melalui kebocoran.
Kebocoran total (%) dapat dihitung dengan rumus berikut :
t1/(t1+t2)x 100
Kebocoran (%) :
Dimana,
t1 : Waktu Load ( detik )
t2 : Waktu Unload ( detik )
Kebocoran akan dinyatakan dalam bentuk persentase (%). Jumlah kebocoran … > 10 % dari kapasitas udaranya, dikategorikan sistem terawat dengan baik. Jika kebocoran 10 % < 19 % dari kapasitas udaranya, dapat dikategorikan sistem terawat dengan baik. Jika kebocoran mencapai 20 % < …. Dari kapasitas udaranya, maka dikategorikan sistem perawatannya buruk.
Prosedur
1. Uji kebocoran dilakukan bila keseluruhan pabrik dimatikan.
2. Kompresor dinyalakan untuk mengisi jaringan sistem dengan udara tekan.
3. Unit kompresor akan unload pada saat tekanan sistem mencapai titik pengaturan ( set point ).
4. Jika tidak ada kebocoran pada sistem, kompresor ini akan tetap unload.
5. Tapi, jika ada kebocoran sistem, tekanan sistem secara berangsur – angsur mulai turun mencapai titik pengaturan bawah, dimana kompresor akan load lagi dan mulai menghasilkan tekanan.
6. Waktu load dan unload diukur dengan menggunakan stopwatch dan diulang sebanyak 5 – 6 x dan kemudian dirata – ratakan.
7. Jumlah kebocoran yang didapat, dapat dievaluasi bersama.
Senin, 22 November 2010
Bahan Bakar Tuak
Pada saat artikel ini turun tulis maka Yahoo Search Engine memunculkan 1570 temuan, sementara Google Search Engine dengan kata kunci ‘bahan bakar tuak’ akan ada sejumlah 8130 temuan yang membahas mengenai ‘tuak sebagai bahan bakar’. Berbagai media online termasuk Metro TV menurunkan beritanya sebagai sebuah temuan yang disambut baik oleh masyarakat.
Tak kurang, Mudji Slamet – Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Pemerintah Kabupaten Tuban banyak menerima kedatangan Tokoh Masyarakat, Kepala Desa, dan anggota masyarakat dari berbagai kecamatan di Kabupaten Tuban seperti Kecamatan Plumpang, Palang, Tambakboyo dan lainnya untuk mencari tau proses pembuatan bahan bakar (BB) dari tuak yang selama ini hanya dikenal sebagai minuman rakyat terutama masyarakat Batak dan sebagai bahan pembuat gula-merah. Bahkan Bupati Tuban – Haeny Relawati – merekomendasi proses uji coba tuak menjadi etanol masuk dalam kurikulum pendidikan.
Memang luar biasa sambutan masyarakat apabila ada temuan baru yang berkaitan dengan BB sebagai penghasil enerji, soalnya walaupun Bumi Indonesia yang sangat kaya dengan berbagai sumber enerji namun masyarakatnya seolah tidak pernah diuntungkan dengan kekayaan Ibu Pertiwi tersebut. Lalu muncullah berita-berita heboh bila berkaitan dengan temuan baru yang berkaitan dengan BB.
Presiden SBY Sedang Mengamati Blue Energi
Kita belum lama dihebohkan dengan temuan BB yang disebut Bayu Geni dimana katanya airlaut dapat dijadikan sebagai BB pengganti bensin oleh seorang bernama Joko Suprapto. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui rektornya sangat antusias menyambut penemuan mas Joko ini, bahkan membuat proyek yang melibatkan banyak kaum intelektual di UMY dan akan mem-paten-kan penemuan ini dengan nama ‘Banyugeni’. Bukan hanya itu, Joko Surapto cs bisa meyakinkan Presiden SBY mengenai temuan bahan bakar berbahan baku air lewat staf khusus Presiden, Heru Lelono. Temuan blue energy Joko Suprapto ini pun sudah direspons dengan pembangunan pabrik blue energy di Cikeas, 2 KM dari rumah SBY, oleh PT. Sarana Harapan Indo (SHI) Corp. Akhirnya dikatakan temuan ini adalah penipuan.
Sebenarnya ‘air’ sebagai BB sudah diketahui secara science dipatenkan sekitar tahun 1917 lalu. Secara teoritis ‘air’ menjadi BB sudah mempunyai Hak Paten oleh Stanley Meyer yang berlaku selama 90 tahun. Pada tahun 2007 Hak Paten ini berakhir dan teori yang dipatenkan oleh Stanley Meyer ini menjadi ‘public domain’ sehingga banyak universitas dan institusi riset di dunia berlomba-lomba untuk menciptakan alat yang mampu menghasilkan enerji dari air menjadi BB yang dapat di aplikasikan pada kendaraan.
Sebenarnya ‘air’ sebagai BB sudah diketahui secara science dipatenkan sekitar tahun 1917 lalu. Secara teoritis ‘air’ menjadi BB sudah mempunyai Hak Paten oleh Stanley Meyer yang berlaku selama 90 tahun. Pada tahun 2007 Hak Paten ini berakhir dan teori yang dipatenkan oleh Stanley Meyer ini menjadi ‘public domain’ sehingga banyak universitas dan institusi riset di dunia berlomba-lomba untuk menciptakan alat yang mampu menghasilkan enerji dari air menjadi BB yang dapat di aplikasikan pada kendaraan.
Foto Ujicoba HydroActor
Sebenarnya pada September 2007, penulis sudah berhasil melakukan percobaan pembuatan alat berdasarkan teori Stanley Meyer penghasil energi BB dari bahan air (H2O2) yang dapat diaplikasikan pada kendaraan. Alat tersebut dinamai penulis ‘HydroActor’ dan berhasil diujicobakan pada mobil dan sepeda motor dengan hasil uji stasioner mencapai pengiritan BB bensin sebesar 35% (tiga puluh lima persen). Percobaan tersebut juga membuat 4 buah prototype yang berbeda untuk mendapatkan penyempurnaannya. Kalau Joko Suprapto meng-klaim menghasilkan BB yang disebut Banyugeni (berwujut minyak), maka penulis hanya menciptakan sebuah alat sederhana dinamai HydroActor yang memproses air penjadi BB dengan metode berdasarkan teori yang dikembangkan oleh Stanley Meyer yaitu merubah air (H2O2) terurai menjadi Hidrogen (H2) dan Oksigen (O2), dimana Hidrogen secara teknis adalah BB dan Oksigen adalah sebagai zat pembagar dan keduanya dapat dimanfaatkan sebagai energi dalam sistim penggerak seperti mobil dan motor. Namun sayang. alat ini (HydroActor) untuk sementara belum dikembangkan lebih lanjut oleh karena momen keseriusannya pada saat itu terusik oleh kasus Banyugeni yang dianggap penipuan oleh Joko Suprapto.
Data Test HydroActor
Di awal tahun ini ada pula penemuan baru BB alternative yang disebut ‘Pasok Geni’ yang diciptakan oleh tim Mahasiswa Teknik Mesin Universitas Tidar Magelang yang menyebut kelompoknya dengan sebutan ‘Pijar’ (Pencinta Innovasi Tidar) yang menurut pengakuannya sudah dilakukan penelitiannya sejak 5 bulan lalu, ujar salah seorang penemu bernama Agus Muhaimin. Temuan ini mengandalkan pencampuran antara 1 liter bensin Pertamax Plus + 3 liter bensin Premium + 40 mili liter Etanol 96% + 40 mili liter Zat Super Additive yang menjadi kunci kerahasiaannya, katanya. Adapula catatannya bahwa etanol campurannya katanya harus yang terbuat dari tebu pula dan kalau dari produk bahan lain dikatakan kurang baik, ini perlu pula dipertanyakan secara teknis? Menjadilah BB yang disebut Pasok Geni yang disebutkan dapat menghemat 6-20% BB dan mengurangi emisi gas negative sebesar 50%. Menurut Jarot Hari Astanto sebagai dosen pembimbing Tim Pijar, setelah dana dari Program Kreativitas Mahasiswa Universitas Tidar turun, Pasok Geni akan diproduksi lebih banyak untuk dibagikan gratis kepada masyarakat. “Sebagai bentuk perkenalan dan juga pengabdian untuk masyarakat,” jelasnya. Harga Pasok Geni dikatakan berkisar Rp 6.300 per liternya.
Memang akan menjadi luar biasa sambutan masyarakat bila sesuatu hal yang berkaitan dengan BB. Akan tetapi perlu pula disikapi terhadap berbagai temuan tersebut apa benar dapat menjadi sesuatu yang berguna dan menguntungkan bagi masyarakat atau hanya sebatas upaya penipuan dan pembodohan, tentu memerlukan pembuktian dan waktupun akan menjadi parameter pengujiannya.
Temuan-temuan yang dipaparkan diatas sebenarnya secara sederhana dapat kita hitung berdasarkan nilai ekonomisnya. Coba kita hitung nilai ekonomis untuk produk-produk temuan tersebut:
Pasok Geni:
Formulasi: Bensin Premium = 3 liter x @Rp 4.500 = Rp 13.500; Bensin Pertamax Plus = 1 liter x @Rp 6.000 = Rp 6.000; Etanol = 40 ml = 0,04 liter x @Rp 10.000 = Rp 400; Super Additif (Katanya rahasia) = Rp X; Total biaya BB per 4 liter adalah 19.900 + X = Rp 6.300/liter; Maka harga bahan Additive rahasia:
- X = Rp 6.300 – Rp 19.900/4 liter
- X = Rp 6.300 – Rp 4.975
- X = Rp 1.325 (bahan additive + proses produksi)
Pada efisiensi yang diperoleh 6% – 20% bila diambil efisiensi rata-rata menjadi sebesar 6% + (20%-6%)/2 = 6% + 7% = 13% saja, atau nilai BB Pasok Geni setara Rp 6.780 dibanding bensin Pertamax Plus.
Dengan penggunakan Bensin Pertamax Plus yang berharga Rp 6.000 maka harga BB Pasok Geni setara senilai Rp 6.780, artinya dengan menggunakan BB Pasok Geni diperoleh keuntungan senilai Rp 6.780 – Rp 6.300 = Rp 480, nilai riel sebenarnya hanya sebesar 8% saja dari bensin Pertamax Plus.
Apabila efisiensi 13% ini diberlakukan untuk perhitungan bensin Premium yang berharga Rp 4.500 maka nilai BB Pasok Geni sebenarnya senilai Rp 5.085, yaitu harga nilai tambahnya dibawah harga BB Pasok Geni, malah sudah rugi sebesar Rp 6.300 – R 5.085 = Rp 1.215. Yang lebih parah lagi bila efisiensi yang dicapai hanyalah sebesar 6% maka nilai harga BB Pasok Geni seharusnya hanya sebesar Rp 4.770, sehingga kerugian membeli BB Pasok Geni menjadi senilai Rp 6.300 – 4.770 = Rp 1.530. Ini artinya pengguna Premium akan dirugikan sebesar 34% bila menggunakan BB Pasok Geni.
Lalu, bila kalkulasi ini yang terjadi, apakah BB Pasok Geni masih memiliki nilai tambah? Apakah ada tendensi penipuan bila efisiensinya diperbandingkan dengan penggunaan Premium? Karena perhitungannya ternyata mengalami kerugian mencapai 34% bagi pengguna Premium.
Dari sebuah artikel tentang etanol di indonesiaenegiwatch.com yang di-posting pada 9 Maret 2009 ternyata teknik campur mencampur seperti ini sudah tercipta berdasarkan pengalaman campur mencampur oleh tukang ojek di Cicurug – Sukabumi. Lalu apapula yang dimaksud bahan Super Additive rahasia? Apakah Tim dari Universitas Tidar Magelang ini hanya mengadopsi metode tukang ojek yang disebutkan pada artikel di situs Indonesia Energy Watch di atas?
Banyu Geni:
Apabila Pasok Geni yang memang terkesan teknis dan logis karena hanya mengandalkan teknik campur mencampur BB yang ada beredar dipasaran, plus Super Additive yang disebut dirahasiakan, apalagi dilakukan oleh Tim dari universitas maka kesan pengecohannya tidak terlihat, namun dari kalkulasi ekonomisnya ternyata jauh panggang dari api, atau mungkin saja mereka kurang cermat menghitungnya.
Kalau kasus Banyu Geni yang sudah diissukan sebagai penipuan yang sampai mengecoh para cerdik-cendekia di universitas dan bahkan kalangan petinggi Negara dan katanya sudah dipresentasikan kepada presiden SBY yang dikenal dengan Proyek Blue Energy nya menjadi tergiur sehingga sebuah perusahaan sempat berdiri bernama PT. Sarana Harapan Indonesia Corp. dan pabrik BB-nya di Cikeas, sekitar 2 km dari rumah Presiden SBY, dan nama Joko Suprapto tercantum juga disitu.
Belum lagi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui rektornya yang menyebutkan bahwa Banyugeni terinspirasi dari ayat-ayat Al-Qur’an, ternyata meneken kontrak pula dengan Joko Suprapto membuat pembangkit listrik Jodhipati yang dikatakan dapat menghasilkan daya listrik 3 MW melalui PT. Mentari Prima Karsa dibawah naungan UMY ternyata bohong belaka. Akhirnya rektor UMY dan beberapa pejabatnya mengundurkan diri karena memang tertipu secara konyol. Anehnya yang terlibat dengan PT. di Cikeas belum diketahui ada yang mengundurkan diri. Tidak tanggung-tanggung pula pamor Banyugeni ini sehingga Portal Indonesia di www.indonesia.go.id menampilkannya dan coba and baca disini>>>.
Kalau ada yang bertanya; apa benar air dapat menjadi BB? Maka jawabnya memang ‘bisa’. Lalu mengapa Banyugeni menjadi unsur penipuan? Jawabnya adalah bahwa semua orang yang berada disekitar topik Banyugeni, baik para intelektual penelitinya, para pejabatnya, para penipunya, sangat jelas tidak tau apa yang dimaksud antara Bahan Bakar (BB) dengan Bahan Bakar Minyak (BBM), sehingga otak mereka hanya mewujudkan bentuknya sebagai ‘minyak’ (hidrokarbon) dan otak tersebut belum mampu menggambarkan wujud tersebut merupakan cairan atau gas yang disebut Hidrogen (cair/gas) dan Oksigen (cair/gas) atau non-hidrokarbon yang memang sangat gampang diperoleh dari air, ya air yang kita kenal sehari-hari.
Maka terjadilah penipuan oleh tokoh penipu seperti Joko Suprianto Cs yang mengaku mampu menghasilkan BB (maksudnya minyak), yang awalnya dikatakan dari air laut. Lalu Joko Suprapto membawa minyak yang diperolehnya dari air laut itu ke UMY dan di test aplikasinya dan dibawa ke laboratorium. Darimana kemungkinannya minyak itu diperolehnya? Mungkin saja memang benar dari air-laut. Airlaut di pantai terutama disekitar pelabuhan sudah pasti tercemar tumpahan solar, minyak tanah atau bensin yang memang banyak digunakan oleh kapal, sampan, speedboat. Tumpahan cemaran ini terkadang sudah dalam bentuk solutan seperti lumpur terlarut. Apabila airlaut ini dilakukan semacam proses destilasi maka akan diperoleh jenis minyak yang memang berupa hidrokarbon sebagaimana BBM yang umum. Kalau dari unsur air-nya sendiri bahwa BB yang dapat dihasilkan adalah Hidrogen (H2) dan tak mungkin diperoleh unsur minyak (hidrokarbon), seperti misalnya bensin C8H18. Maka tertipulah semua…..
Bahan Bakar Tuak:
Bahan Bakar Tuak maksudnya adalah BB yang dihasilkan dari bahan baku tuak. Lalu apa yang aneh sehingga masyarakat di Kabupaten Tuban menjadi sangat antusias untuk belajar membuat BB itu?
Tuak atau variannya seperti nira secara umum dikenal oleh masyarakat sebagai minuman yang menghangatkan karena sedikit mengandung alkohol. Beberapa daerah menempatkan tuak sebagai minuman khas adalah Tanah Batak (khususnya Toba) dengan istilah Mitu (minum tuak), Tuban, Bali (khususnya Karangasem) dengan istilah Metuakan, Suku Rote dan Suku Sabu termasuk Flores di NTT, Toraja dan Makassar yang menyebut tuak adalah ballo, Suku Dayak di Kalimantan Tengah dengan sebutan minum Baram (melalui proses peragian), dan banyak lagi daerah di Indonesia yang menggemari minum tuak. Minuman yang digemari oleh masyarakat ini berkemampuan menghangatkan badan yang meminumnya karena jenis minuman ini memang mengandung alkohol. Kandungan alcohol atau derivatifnya inilah yang dapat menjadi BB dan salah satunya disebut etanol.
Apabila di Tuban sudah terdata jumlah pohon nira sebanyak 4000 pohon maka dapat diperkirakan jumlah produksi tuaknya dan demikian pula dapat dihitung hasil yang dapat diperoleh setelah menjadi etanol. Tidak demikian halnya di Tanah Batak yang banyak masyarakatnya peminat minum tuak tidak pernah terdata jumlah pohon bagot (aren) sehingga tidak pernah mampu dikalkulasi produksi yang mampu dihasilkan dan bahkan jelas terlihat bahwa untuk konsumsi minuman saja terjadi kekurangan pasokan. Hal ini terlihat pula pada komunitas Batak yang ada di perantauan yang selalu kekurangan pasokan tuak sebagai minuman. Lalu apa mungkin bagi mereka rela mengkonversi tuak menjadi BB?
Etanol dengan rumus molekul C2H5OH memang merupakan hidrokarbon sebagai alternative BB pengganti BBM dari fossil yang sudah lazim dipakai untuk kendaraan atau penggunaan lainnya, jadi kalau tuak dikatakan oleh masyarakat tuban yang berlomba-lomba untuk mempelajari prosesnya yang pada akhirnya hanyalah sebatas menambah pengetahuan saja.
Sebenarnya bahan-bahan dari tanaman yang mampu menghasilkan etanol sudah lama diketahui termasuk tuak bukan lagi hal yang perlu diherankan. Sejumlah hasil tanaman seperti tuak, jagung, gandum, singkong, ubi, kentang, tebu, rumput, bit, dan banyak lagi jenis tumbuhan lainnya mampu menghasilkan etanol melalui berbagai proses seperti hidrolisis, fermentasi, destilasi, dehidrasi, denaturasi dan proses lainnya. Akan tetapi mengapa belum banyak dilakukan oleh masyarakat adalah secara ekonomis masih kurang menguntungkan.
Coba kita buat kalkulasi ekonomisnya bahwa tuak masih lebih bernilai ekonomis bila dipasarkan sebagai konsumsi minuman tuak dibanding apabila harus diproses lagi untuk pembuatan etanol, dengan referensi kasus kehebohan bahan bakar tuak di Tuban:
Untuk mendapatkan 2 liter etanol yang berharga Rp 17.500, dibutuhkan 10 liter tuak. Harga 10 liter tuak di Tuban sekitar Rp 15.000. Konversi 10 liter tuak menjadi 2 liter etanol hanya mendapatkan selisih kotor Rp 2.500 saja. Selisih ini adalah untuk biaya produksi dan keuntungan sudah pasti tidak mendapat nilai tambah apa-apa bagi masyarakat. Apabila kalkulasi ini kita referensikan untuk pasar eceran tuak di Jakarta maka akan semakin jelas terlihat kalkulasi yang merugikan.
Satu liter tuak adalah setara dengan 6 gelas (jenis gelas belimbing besar) tuak. Harga tuak adalah Rp 3.000/gelas di tingkat eceran di Jakarta. Maka untuk 1 liter tuak akan bernilai Rp 18.000. Kalau tuak di Tuban berharga Rp 1.500/liter, maka di Jakarta sudah mendapat nilai tambah sebesar 12 kali lipatnya. Lalu kenapa harus memproduksi etanol yang tidak mempunyai nilai tambah? Apabila gambaran kasar di Jakarta dan sekitarnya serdapat 200-an Lapo (warung tuak) dengan konsumsi minimal 1 jerrycan (@25 liter) maka konsumsi masyarakat Batak Jakarta dan sekitarnya mampu menyerap sebanyak 5.000 liter tuak atau setara dengan berat 5 ton tuak dalam sehari. Apabila volume pasar ini dikonversi menjadi etanol sejumlah 1.000 liter yang hanya bernilai setara Rp 8.750.000 (delapan juta tujuh ratus lima puluh ribu), maka bila sebagai konsumsi minuman orang Batak nilainya akan setara Rp 90.000.000 (sembilan puluh juta rupiah) setiap hari. Lalu apakah Kabupaten Bantul masih mau memproduksi etanol?
Kajian ekonomis sederhana lainnya sebenarnya sudah dipaparkan dalam sebuah artikel di situs ini, tetapi coba ditelusuri ulang disini. Selain daripada memproduksi etanol dari tuak, mungkin masih lebih bernilai tambah bila tuak dijadikan sebagai gula merah, crystal brown-sugar, vinegar. Oleh karena itu, bagi orang Batak baik di bonapasogit (tanah asal) atau diperantauan, hampir dapat dipastikan tidak tertarik dengan heboh bahan bakar tuak, dan mungkin masih lebih tertarik dengan Mitu (minum tuak) disamping sebagai bahan bakar tubuh juga tuak tetap lestari sebagai salah satu penganan dalam sebuah prosesi adat-istiadat.
source : naipospos » Bahan Bakar Tuak.htm
BEBERAPA CARA BARU PENGHEMATAN ENERGI LISTRIK.
Kenaikan harga riil listrik tidak bisa dihindarkan. Kenaikan harga listrik dunia rata-rata 7% setahun, sedangkan Indonesia sudah dicanangkan akan ada kenaikan 6% tiap 4 bulan. Salah satu alasan kenaikan harga ini adalah untuk membangun pembangkit baru guna mencukupi kebutuhan kenaikan konsumsi listrik. Jika setiap konsumen bisa menghemat antara 5 - 10% saja, maka ada kemungkinan pada tahun ini tidak diperlukan pembangkit baru. Pemerintah bisa ikut berperan untuk mendukung program penghematan energi ini dengan memberikan insentif pada pelaksanaannya. Sesungguhnya program hemat energi ini memberikan keuntungan pada semua pihak, konsumen bisa mengurangi pembayaran rekening, perusahaan listrik tidak dikejar-kejar bikin pembangkit baru, pemerintah bisa mengurangi jumlah rencana hutang. Program penghematan listrik adalah bukan sekedar masalah teknis semata, melainkan merupakan pertimbangan dan keputusan manajemen, terutama ditinjau dari segi keuangan. Uraian di bawah ini terutama ditujukan untuk para pemakai listrik yang besar dengan rekening listrik diatas Rp100 juta per bulan.
Bagaimana Caranya?
Secara garis besar cara penghematan pemakaian energi dapat dibagi dalam 5 kategori yaitu:
1. Peninjauan ulang sistem teknis dan perbaikan arsitektur bangunan.
Dari hasil studi, statistik dan pengukuran pada sejumlah gedung bertingkat di Jakarta diperoleh fakta bahwa beban listrik untuk AC rata-rata mencapai sekitar 60% dari seluruh pemakaian listrik. Fokus penghematan harus diarahkan pada sistem pendinginan ini, misalnya memilih/mengganti unit AC dengan yang mempunyai EER rendah atau memperbaiki sistem aliran refrigerant agar bisa lebih hemat listrik, dan mengurangi beban pendinginan. Salah satu beban pendinginan yang besar adalah sinar matahari yang langsung masuk ke dalam ruang, terutama antara jam 10 pagi sampai jam 15. Dengan memasang penghalang sinar matahari pada sisi timur dan barat di luar gedung pada sudut jam 10 dan jam 14, akan bisa sangat mengurangi secara drastis beban pendinginan. Pemasangan vertical blind di dalam gedung tidak ada artinya bagi mesin AC, karena radiasi sinar matahari sudah terlanjur masuk ke dalam ruang dan akan tetap menjadi beban mesin AC. Perambatan panas matahari melalui dinding dapat dikurangi dengan menambah isolator panas. Isolator panas yang cukup baik adalah udara. Pemakaian dinding dobel dengan jarak antara dinding sekitar 10 cm akan sangat menghambat perambatan panas. Pemakaian batako pres dengan rongga udara di bagian tengah juga bisa mengurangi perambatan panas. Udara dingin yang keluar atau udara panas yang masuk sama-sama memboroskan energi. Dengan melakukan peninjauan ke lapangan, ke setiap ruang, selalu akan dapat diperoleh beberapa lubang kebocoran udara dingin dengan udara panas yang harus segera ditutup. Hasil pengukuran di pintu lobi hotel yang dibiarkan terbuka pada siang hari, dan udara dingin keluar, menunjukkan pemborosan sebesar 5000 watt, yang setara dengan 10 bh rumah rakyat KPR-BTN. Pemasangan pintu tutup otomatis, pintu putar atau alat "air curtain" bisa mengatasi masalah ini.
2. Perbaikan prosedur operasionil secara manual.
Beberapa prosedur operasional yang dapat dengan mudah dilaksanakan antara lain: mewajibkan kepada para pemakai gedung untuk selalu mematikan lampu atau AC jika sedang tidak ada orang, mematikan lampu yang dekat jendela kaca pada siang hari, tidak menyalakan pompa pada jam 18-23 karena harga listrik lebih mahal, selalu menutup pintu dan jendela yang memisahkan ruang berAC dengan yang tidak, selalu memeriksa lampu jalan dan lampu taman yang sering lupa untuk dimatikan pada siang hari. Prosedur operasional yang tampaknya sederhana ini ternyata dalam pelaksanaannya tidaklah semudah seperti yang dikatakan. Diperlukan petunjuk, teguran, pengawasan yang terus menerus dan melibatkan banyak orang, sampai menjadi suatu kebiasaan atau budaya hemat listrik.
3. Perbaikan prosedur operasionil secara otomatis.
Cara seperti no 2 di atas masih mudah dan bisa dilaksanakan untuk gedung pendek atau pabrik kecil, dan akan menjadi sulit dilaksanakan untuk gedung 25 lantai atau pabrik lebih besar dari 5000m2. Untuk mengatasi kesulitan ini, telah tersedia banyak jenis sensor dan actuator untuk berbagai keperluan. Sensor level cahaya, sensor pintu sedang terbuka/tertutup, sensor keberadaan seseorang di dalam ruangan, pengatur waktu otomatis, dan lain sebagainya bisa dirangkai dan dikombinasikan untuk mencapai tujuan penghematan listrik. Konfigrasi jaringan sensor juga bisa direncanakan dengan seksama. Bahkan sekarang juga telah tersedia teknologi "addressable" sensor, actuator dan monitor. Setiap unit bisa diberi address, dan hubungan antar unit cukup dilihat sebagai antar address. Selama addressnya sama, dimanapun berada, selalu bisa saling berhubungan. Semua koneksi komunikasi dilakukan secara paralel dengan cukup menggunakan 2 kabel telepon biasa. Misalnya sensor keberadaan orang di ruang rapat lantai-17 diberi address nomer 34, maka jika ada orang di dalam, maka lampu ruang (address=34) akan menyala, AC ruang rapat (address=34) akan menyala, lampu tanda minta kopi di pantry (address=34) menyala, lampu tanda monitor di ruang kontrol di basement (address=34) juga menyala. Jika Ruang Rapat tersebut kosong dalam waktu 10 menit, makan semua yang berhubungan dengan address 34 akan mati semua. Petugas jaga di ruang monitor mempunyai kuasa untuk mematikan semua yang berhubungan dengan adress no 34. Semua dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, tanpa komputer. Salah satu kelemahan BAS (Building Automation System) terletak pada SDM yang sering "gaptek" (gagap teknologi) program komputer, baik pada sisi operator maupun manajemen. Dengan demikian, banyak BAS yang tidak dipakai secanggih kemampuannya.
4. Pemasangan alat penghemat listrik di seluruh instalasi.
Pada prinsipnya pada kebanyakan beban (peralatan yang memakai listrik), selalu bisa dihemat listriknya walau sedikit. Di sini diperlukan kejelian dan keahlian untuk menentukan memilih jenis beban dan alat yang sesuai untuk penghematan. Beban lampu pijar, lampu neon, pemanas, unit AC, motor, dan lain-lain, semuanya mempunyai alat penghemat yang spesifik/unik berdasarkan kinerja beban, schedul pemakaian beban. Dalam persoalan ini, yang lebih penting adalah "multiplier effect" dari penghematan yang kecil-kecil ini. Pengertian "multiplier effect" ini yang masih sulit diterima oleh sebagian besar teknisi/insinyur kita, yang sudah terbiasa dengan penghematan secara parsial. Berapa tingkat penghematan total yang bisa diperoleh untuk suatu instalasi, hanya bisa diestimasi berdasarkan statistik dari banyak program/ proyek yang pernah dilakukan. Perusahaan yang bergerak dalam bidang penghematan energi listrik ini mempunyai rahasia angka "multiplier" yang tidak bisa dibuka terhadap clientnya. Dengan demikian kontrak yang bisa dilakukan berupa "Result Oriented Contract", atau "Performance Contract", terhadap tingkat penghematan yang mencakup seluruh instalasi/jaringan listrik dalam satu gedung tinggi, kompleks bangunan atau pabrik. Perusahaan Kontraktor Penghemat Biaya Listrik melakukan audit energi yang biasa dipakai, mencari peluang kemungkinan di mana saja bisa dilakukan penghematan, menghitung/estimasi besar penghematan, menjamin besar penghematan dalam persen, menghitung waktu pengembalian modal (payback period). Dengan cara ini, tingkat penghematan yang bisa dicapai antara 5-20%, dengan payback period sekitar 30 bulan
5. Perbaikan kwalitas daya listrik.
Dalam seminar HAEI (Himpunan Ahli Elektro Indonesia), November 2001, terungkap bahwa di beberapa instalasi di Jakarta ditemukan beberapa anomali parameter listrik, misalnya arus netral lebih besar daripada arus fasa, alat pemutus daya bekerja walau beban arus terukur masih 60% dari kapasitasnya, motor lebih cepat panas dari biasanya. Semula hal-hal ini membuat bingung para insinyur listrik dan untuk mengatasinya sementara, mereka menambah ukuran kawat netral, sehingga sama dengan ukuran kawat fasa (yang biasanya cukup setengah dari kawat fasa), memperbesar kapasitas pemutus daya, kapasitas motor dlsb. Di sinilah ternyata telah dilakukan salah satu pemborosan baik berupa biaya listrik bulanan maupun biaya modal investasi. Salah satu penyebabnya adalah adanya "harmonisa" yang timbul/ada di dalam jaringan listrik.
Seperti halnya pengetahuan tentang tubuh manusia, harmonisa bisa dianalogikan dengan kolesterol di dalam darah. Kolesterol merambat ke seluruh aliran darah, bisa menyumbat saluran darah, membuat jantung bekerja lebih keras, menyumbat otak, bahkan bisa menghentikan kerja jantung. Harmonisa juga merambat ke seluruh jaringan instalasi, membuat kabel lebih panas, mesin-mesin motor lebih panas (kemampuan menurun), sambungan-sambungan pada pemutus daya lebih panas, trafo utama (jantung bangunan) lebih panas. Hal yang fatal bisa terjadi adalah panas berlebih pada kabel, sambungan kabel dan pada trafo yang bisa meledak dan bisa mengakibatkan kebakaran.
Harmonisa ini, disamping menjalar di dalam instalasi satu konsumen, bisa menjalar ke instalasi tetangga yang berdekatan, bahkan menjalar sampai ke trafo PLN di Gardu Distribusi dan Gardu Induk. Jadi, tidak heran jika ada Gardu Distribusi atau kabel PLN yang semula aman aman saja, tiba-tiba bisa meledak.
Harmonisa timbul pada 2 dekade belakangan ini akibat pemakaian alat-alat "modern", yang banyak dipakai untuk sistem kontrol yang lebih baik, misalnya inverter, pengatur kecepatan/putaran, UPS (Uninteruptible Power Supply), ballast elektronik, pengatur temperatur pemanas industri (oven, heater) yang menggunakan SCR/chopper, dll.
Fenomena harmonisa ini tidak bisa dideteksi dengan alat-alat ukur biasa yang ada pada panel kontrol atau tang-amperemeter biasa. Seperti halnya stetoskop biasa yang tidak bisa mendeteksi kolesterol atau kinerja jantung dengan teliti, maka diperlukan alat ECG, maka untuk harmonisa ini juga diperlukan spektrum analyzer yang bisa mendeteksi tingkat harmonisa 1 s/d 31 dan besaran nilai harmonisa dalam persen dan bisa menghitung nilai total harmonisa, pada arus dan tegangan.
Untuk mengatasi masalah harmonisa ini, bisa dipasang alat penyaring dan penyumbat (filtering and blocking) pada sumber-sumber harmonisa atau pada panel utama konsumen. Dari hasil pengukuran harmonisa bisa ditentukan besaran filter yang sebaiknya dipakai. Jika beban berubah-ubah, nilai filter juga bisa dibuat otomatis berubah sesuai dengan perubahan beban.
Pemborosan energi juga terjadi pada besaran listrik lain, yakni pada tegangan dan arus yang tidak seimbang, power factor, arus/tegangan surja (surge, impuls), tegangan surut sesaat, kehilangan catu daya sesaat, catu daya hilang 1 fasa. Asosiasi produsen listrik Amerika (NEMA), menerbitkan grafik karakteristik mesin motor, yang menunjukkan bahwa ketidak-seimbangan tegangan supply sebesar 5% saja, bisa mengakibatkan kenaikan panas sebesar 50%, dan mengakibatkan penurunan kapasitas sebesar 25%. Jika mesin motor 10 PK tidak mampu mengangkat beban sebesar 10 PK atau bahkan 8 PK, maka perlu dicurigai, dan ini yang sering lolos dari perhatian manajemen. Teknisi biasanya hanya menyarankan untuk memakai motor yang lebih besar saja, biar aman, tetapi tanpa sadar memboroskan modal dan rekening listrik. Dengan alat ukur dan recorder yang bisa sekaligus, pada saat yang bersamaan, membaca grafik tegangan pada masing-masing fasa, ternyata pada banyak kasus, terjadi perbedaan tegangan fasa sekitar 2 - 7 Volt. Ketidak-seimbangan arus fasa menyebabkan terjadinya arus netral yang tidak wajar, menyebabkan panas berlebih pada kawat netral (kawat nol), yang juga memboroskan energi. Dengan memasang alat-alat penyeimbang fasa tegangan dan arus, maka kerugian/pemborosan bisa dikurangi. Alat-alat kontrol pabrik atau instalasi gedung bertingkat bisa terganggu akibat tegangan surut sesaat, kehilangan catu daya sesaat, atau catu daya hilang satu fasa. Kerugian akibat berhentinya pabrik atau aktivitas gedung akibat gangguan alat kontrol tersebut tidak mudah untuk dihitung secara umum, tetapi secara kwalitatif pasti terjadi kerugian yang besar pada kasus-kasus khusus, misalnya percetakan koran, pabrik dengan proses batch yang tidak bisa diulang.
Perbaikan kwalitas daya dengan mengurangi pemborosan yang selama ini dilakukan tanpa disadari, bisa mencapai penghematan total sebesar 5 - 25% dari rekening bulanan. Angka ini berasal dari statistik program pelaksanaan penghematan energi, dan merupakan "multiplier effect" dari penghematan kecil-kecil pada tiap parameter listrik.
Investasi yang diperlukan untuk mendanai program-program penghematan energi ini, dengan tingkat penghematan seperti di atas, dapat kembali dalam waktu sekitar 24 bulan, atau bisa mencapai tingkat ROI (return on investment) sebesar 30-38%. Jika investasi ini dipandang sebagai pendirian usaha baru, maka ini adalah usaha yang memberikan keuntungan pasti, bisa berjalan sendiri, tanpa menambah tenaga kerja, tanpa demo, tanpa pemogokan. Jika bank sekarang ini pada kondisi over-liquid, kenapa tidak menyalurkan dana pada program ini?. Jaminan payback period bisa di perkuat dengan jaminan asuransi, maka ini merupakan lahan baru bagi perusahaan asuransi di Indonesia. Investasi untuk program ini jika dihitung rupiah/kwh terhemat, masih jauh lebih kecil dari pada rupiah/kwh pembangkitan.
Bagaimana Caranya?
Secara garis besar cara penghematan pemakaian energi dapat dibagi dalam 5 kategori yaitu:
1. Peninjauan ulang sistem teknis dan perbaikan arsitektur bangunan.
Dari hasil studi, statistik dan pengukuran pada sejumlah gedung bertingkat di Jakarta diperoleh fakta bahwa beban listrik untuk AC rata-rata mencapai sekitar 60% dari seluruh pemakaian listrik. Fokus penghematan harus diarahkan pada sistem pendinginan ini, misalnya memilih/mengganti unit AC dengan yang mempunyai EER rendah atau memperbaiki sistem aliran refrigerant agar bisa lebih hemat listrik, dan mengurangi beban pendinginan. Salah satu beban pendinginan yang besar adalah sinar matahari yang langsung masuk ke dalam ruang, terutama antara jam 10 pagi sampai jam 15. Dengan memasang penghalang sinar matahari pada sisi timur dan barat di luar gedung pada sudut jam 10 dan jam 14, akan bisa sangat mengurangi secara drastis beban pendinginan. Pemasangan vertical blind di dalam gedung tidak ada artinya bagi mesin AC, karena radiasi sinar matahari sudah terlanjur masuk ke dalam ruang dan akan tetap menjadi beban mesin AC. Perambatan panas matahari melalui dinding dapat dikurangi dengan menambah isolator panas. Isolator panas yang cukup baik adalah udara. Pemakaian dinding dobel dengan jarak antara dinding sekitar 10 cm akan sangat menghambat perambatan panas. Pemakaian batako pres dengan rongga udara di bagian tengah juga bisa mengurangi perambatan panas. Udara dingin yang keluar atau udara panas yang masuk sama-sama memboroskan energi. Dengan melakukan peninjauan ke lapangan, ke setiap ruang, selalu akan dapat diperoleh beberapa lubang kebocoran udara dingin dengan udara panas yang harus segera ditutup. Hasil pengukuran di pintu lobi hotel yang dibiarkan terbuka pada siang hari, dan udara dingin keluar, menunjukkan pemborosan sebesar 5000 watt, yang setara dengan 10 bh rumah rakyat KPR-BTN. Pemasangan pintu tutup otomatis, pintu putar atau alat "air curtain" bisa mengatasi masalah ini.
2. Perbaikan prosedur operasionil secara manual.
Beberapa prosedur operasional yang dapat dengan mudah dilaksanakan antara lain: mewajibkan kepada para pemakai gedung untuk selalu mematikan lampu atau AC jika sedang tidak ada orang, mematikan lampu yang dekat jendela kaca pada siang hari, tidak menyalakan pompa pada jam 18-23 karena harga listrik lebih mahal, selalu menutup pintu dan jendela yang memisahkan ruang berAC dengan yang tidak, selalu memeriksa lampu jalan dan lampu taman yang sering lupa untuk dimatikan pada siang hari. Prosedur operasional yang tampaknya sederhana ini ternyata dalam pelaksanaannya tidaklah semudah seperti yang dikatakan. Diperlukan petunjuk, teguran, pengawasan yang terus menerus dan melibatkan banyak orang, sampai menjadi suatu kebiasaan atau budaya hemat listrik.
3. Perbaikan prosedur operasionil secara otomatis.
Cara seperti no 2 di atas masih mudah dan bisa dilaksanakan untuk gedung pendek atau pabrik kecil, dan akan menjadi sulit dilaksanakan untuk gedung 25 lantai atau pabrik lebih besar dari 5000m2. Untuk mengatasi kesulitan ini, telah tersedia banyak jenis sensor dan actuator untuk berbagai keperluan. Sensor level cahaya, sensor pintu sedang terbuka/tertutup, sensor keberadaan seseorang di dalam ruangan, pengatur waktu otomatis, dan lain sebagainya bisa dirangkai dan dikombinasikan untuk mencapai tujuan penghematan listrik. Konfigrasi jaringan sensor juga bisa direncanakan dengan seksama. Bahkan sekarang juga telah tersedia teknologi "addressable" sensor, actuator dan monitor. Setiap unit bisa diberi address, dan hubungan antar unit cukup dilihat sebagai antar address. Selama addressnya sama, dimanapun berada, selalu bisa saling berhubungan. Semua koneksi komunikasi dilakukan secara paralel dengan cukup menggunakan 2 kabel telepon biasa. Misalnya sensor keberadaan orang di ruang rapat lantai-17 diberi address nomer 34, maka jika ada orang di dalam, maka lampu ruang (address=34) akan menyala, AC ruang rapat (address=34) akan menyala, lampu tanda minta kopi di pantry (address=34) menyala, lampu tanda monitor di ruang kontrol di basement (address=34) juga menyala. Jika Ruang Rapat tersebut kosong dalam waktu 10 menit, makan semua yang berhubungan dengan address 34 akan mati semua. Petugas jaga di ruang monitor mempunyai kuasa untuk mematikan semua yang berhubungan dengan adress no 34. Semua dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, tanpa komputer. Salah satu kelemahan BAS (Building Automation System) terletak pada SDM yang sering "gaptek" (gagap teknologi) program komputer, baik pada sisi operator maupun manajemen. Dengan demikian, banyak BAS yang tidak dipakai secanggih kemampuannya.
4. Pemasangan alat penghemat listrik di seluruh instalasi.
Pada prinsipnya pada kebanyakan beban (peralatan yang memakai listrik), selalu bisa dihemat listriknya walau sedikit. Di sini diperlukan kejelian dan keahlian untuk menentukan memilih jenis beban dan alat yang sesuai untuk penghematan. Beban lampu pijar, lampu neon, pemanas, unit AC, motor, dan lain-lain, semuanya mempunyai alat penghemat yang spesifik/unik berdasarkan kinerja beban, schedul pemakaian beban. Dalam persoalan ini, yang lebih penting adalah "multiplier effect" dari penghematan yang kecil-kecil ini. Pengertian "multiplier effect" ini yang masih sulit diterima oleh sebagian besar teknisi/insinyur kita, yang sudah terbiasa dengan penghematan secara parsial. Berapa tingkat penghematan total yang bisa diperoleh untuk suatu instalasi, hanya bisa diestimasi berdasarkan statistik dari banyak program/ proyek yang pernah dilakukan. Perusahaan yang bergerak dalam bidang penghematan energi listrik ini mempunyai rahasia angka "multiplier" yang tidak bisa dibuka terhadap clientnya. Dengan demikian kontrak yang bisa dilakukan berupa "Result Oriented Contract", atau "Performance Contract", terhadap tingkat penghematan yang mencakup seluruh instalasi/jaringan listrik dalam satu gedung tinggi, kompleks bangunan atau pabrik. Perusahaan Kontraktor Penghemat Biaya Listrik melakukan audit energi yang biasa dipakai, mencari peluang kemungkinan di mana saja bisa dilakukan penghematan, menghitung/estimasi besar penghematan, menjamin besar penghematan dalam persen, menghitung waktu pengembalian modal (payback period). Dengan cara ini, tingkat penghematan yang bisa dicapai antara 5-20%, dengan payback period sekitar 30 bulan
5. Perbaikan kwalitas daya listrik.
Dalam seminar HAEI (Himpunan Ahli Elektro Indonesia), November 2001, terungkap bahwa di beberapa instalasi di Jakarta ditemukan beberapa anomali parameter listrik, misalnya arus netral lebih besar daripada arus fasa, alat pemutus daya bekerja walau beban arus terukur masih 60% dari kapasitasnya, motor lebih cepat panas dari biasanya. Semula hal-hal ini membuat bingung para insinyur listrik dan untuk mengatasinya sementara, mereka menambah ukuran kawat netral, sehingga sama dengan ukuran kawat fasa (yang biasanya cukup setengah dari kawat fasa), memperbesar kapasitas pemutus daya, kapasitas motor dlsb. Di sinilah ternyata telah dilakukan salah satu pemborosan baik berupa biaya listrik bulanan maupun biaya modal investasi. Salah satu penyebabnya adalah adanya "harmonisa" yang timbul/ada di dalam jaringan listrik.
Seperti halnya pengetahuan tentang tubuh manusia, harmonisa bisa dianalogikan dengan kolesterol di dalam darah. Kolesterol merambat ke seluruh aliran darah, bisa menyumbat saluran darah, membuat jantung bekerja lebih keras, menyumbat otak, bahkan bisa menghentikan kerja jantung. Harmonisa juga merambat ke seluruh jaringan instalasi, membuat kabel lebih panas, mesin-mesin motor lebih panas (kemampuan menurun), sambungan-sambungan pada pemutus daya lebih panas, trafo utama (jantung bangunan) lebih panas. Hal yang fatal bisa terjadi adalah panas berlebih pada kabel, sambungan kabel dan pada trafo yang bisa meledak dan bisa mengakibatkan kebakaran.
Harmonisa ini, disamping menjalar di dalam instalasi satu konsumen, bisa menjalar ke instalasi tetangga yang berdekatan, bahkan menjalar sampai ke trafo PLN di Gardu Distribusi dan Gardu Induk. Jadi, tidak heran jika ada Gardu Distribusi atau kabel PLN yang semula aman aman saja, tiba-tiba bisa meledak.
Harmonisa timbul pada 2 dekade belakangan ini akibat pemakaian alat-alat "modern", yang banyak dipakai untuk sistem kontrol yang lebih baik, misalnya inverter, pengatur kecepatan/putaran, UPS (Uninteruptible Power Supply), ballast elektronik, pengatur temperatur pemanas industri (oven, heater) yang menggunakan SCR/chopper, dll.
Fenomena harmonisa ini tidak bisa dideteksi dengan alat-alat ukur biasa yang ada pada panel kontrol atau tang-amperemeter biasa. Seperti halnya stetoskop biasa yang tidak bisa mendeteksi kolesterol atau kinerja jantung dengan teliti, maka diperlukan alat ECG, maka untuk harmonisa ini juga diperlukan spektrum analyzer yang bisa mendeteksi tingkat harmonisa 1 s/d 31 dan besaran nilai harmonisa dalam persen dan bisa menghitung nilai total harmonisa, pada arus dan tegangan.
Untuk mengatasi masalah harmonisa ini, bisa dipasang alat penyaring dan penyumbat (filtering and blocking) pada sumber-sumber harmonisa atau pada panel utama konsumen. Dari hasil pengukuran harmonisa bisa ditentukan besaran filter yang sebaiknya dipakai. Jika beban berubah-ubah, nilai filter juga bisa dibuat otomatis berubah sesuai dengan perubahan beban.
Pemborosan energi juga terjadi pada besaran listrik lain, yakni pada tegangan dan arus yang tidak seimbang, power factor, arus/tegangan surja (surge, impuls), tegangan surut sesaat, kehilangan catu daya sesaat, catu daya hilang 1 fasa. Asosiasi produsen listrik Amerika (NEMA), menerbitkan grafik karakteristik mesin motor, yang menunjukkan bahwa ketidak-seimbangan tegangan supply sebesar 5% saja, bisa mengakibatkan kenaikan panas sebesar 50%, dan mengakibatkan penurunan kapasitas sebesar 25%. Jika mesin motor 10 PK tidak mampu mengangkat beban sebesar 10 PK atau bahkan 8 PK, maka perlu dicurigai, dan ini yang sering lolos dari perhatian manajemen. Teknisi biasanya hanya menyarankan untuk memakai motor yang lebih besar saja, biar aman, tetapi tanpa sadar memboroskan modal dan rekening listrik. Dengan alat ukur dan recorder yang bisa sekaligus, pada saat yang bersamaan, membaca grafik tegangan pada masing-masing fasa, ternyata pada banyak kasus, terjadi perbedaan tegangan fasa sekitar 2 - 7 Volt. Ketidak-seimbangan arus fasa menyebabkan terjadinya arus netral yang tidak wajar, menyebabkan panas berlebih pada kawat netral (kawat nol), yang juga memboroskan energi. Dengan memasang alat-alat penyeimbang fasa tegangan dan arus, maka kerugian/pemborosan bisa dikurangi. Alat-alat kontrol pabrik atau instalasi gedung bertingkat bisa terganggu akibat tegangan surut sesaat, kehilangan catu daya sesaat, atau catu daya hilang satu fasa. Kerugian akibat berhentinya pabrik atau aktivitas gedung akibat gangguan alat kontrol tersebut tidak mudah untuk dihitung secara umum, tetapi secara kwalitatif pasti terjadi kerugian yang besar pada kasus-kasus khusus, misalnya percetakan koran, pabrik dengan proses batch yang tidak bisa diulang.
Perbaikan kwalitas daya dengan mengurangi pemborosan yang selama ini dilakukan tanpa disadari, bisa mencapai penghematan total sebesar 5 - 25% dari rekening bulanan. Angka ini berasal dari statistik program pelaksanaan penghematan energi, dan merupakan "multiplier effect" dari penghematan kecil-kecil pada tiap parameter listrik.
Investasi yang diperlukan untuk mendanai program-program penghematan energi ini, dengan tingkat penghematan seperti di atas, dapat kembali dalam waktu sekitar 24 bulan, atau bisa mencapai tingkat ROI (return on investment) sebesar 30-38%. Jika investasi ini dipandang sebagai pendirian usaha baru, maka ini adalah usaha yang memberikan keuntungan pasti, bisa berjalan sendiri, tanpa menambah tenaga kerja, tanpa demo, tanpa pemogokan. Jika bank sekarang ini pada kondisi over-liquid, kenapa tidak menyalurkan dana pada program ini?. Jaminan payback period bisa di perkuat dengan jaminan asuransi, maka ini merupakan lahan baru bagi perusahaan asuransi di Indonesia. Investasi untuk program ini jika dihitung rupiah/kwh terhemat, masih jauh lebih kecil dari pada rupiah/kwh pembangkitan.
Senin, 19 April 2010
Broken Home, Wujud Pelanggaran Hak Anak
Pendahuluan
Salah satu hak anak yang tertuang dalam Konvensi Hak Anak (KHA) adalah mendapatkan lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif. Sebagai tempat tumbuh kembangnya anak, rumah menjadi institusi paling awal dan terpenting bagi anak. Saat anak tidak merasa nyaman di tengah-tengah keluarganya, dapat dipastikan ada masalah yang mengganggunya. Bukan untuk waktu sementara, masalah yang dialami anak di lingkungan keluarga pun akan berimbas pada kehidupannya di masa-masa berikutnya. Ketimpangan antara keadaan yang diharapkan anak dengan kenyataan yang dialaminya menjadi pemicu terganggunya perkembangan pribadi anak.
Akan mudah jika masalah itu datang dari diri anak, seperti rasa malas membantu anggota keluarga yang lain membersihkan rumah. Dengan teguran dan contoh yang baik (uswatun hasanah) dari orangtua, anak akan berubah dan dapat menyesuaikan diri dengan aturan keluarga tanpa merasa dipaksa melakukannya. Namun bila masalah dalam keluarga ditimbulkan orangtua yang seharusnya memberi kenyamanan, tentu akan lebih sulit penyelesaiannya. Egoisme orangtua kerap menjadi penghambat keharmonisan keluarga. Padahal merupakan hak anak untuk tumbuh di tengah-tengah keluarga yang mencintainya.
Dalam setiap kasus broken home, anak selalu menjadi atau dijadikan korban. Menjadi korban karena haknya mendapat lingkungan keluarga yang nyaman telah dilanggar. Dijadikan korban karena orangtua kerap melibatkan anak dalam konflik keluarga. Banyak orangtua yang saling tarik-menarik anak saat konflik berlangsung dengan alasan cinta. Dalam bingung, anak terombang-ambing antara dua orang yang mengaku paling menyayanginya. Adakah cinta orangtua yang tidak saling mencintai untuk anak yang membutuhkan cinta tulus?
Ironisnya, banyak diantara anak korban broken home yang memilih lari dari keluarganya dan bersahabat dengan narkoba atau hal-hal negatif lainnya. Dalam beberapa kasus, orangtua malah menyalahkan anak yang tidak bijak memilih pergaulan atau justru saling menyalahkan yang menambah beban pikiran anak. Jika dibiarkan, hal tersebut akan menghilangkan kepercayaan anak terhadap orangtua. Akhirnya, keberadaan orangtua tidak lagi dianggap penting oleh anak.
Lingkungan Kondusif bagi Anak
Dalam Building Positive Communication (2006:17), Savitri Ramadhani menuliskan hasil penelitian Burton L. White (1971) bersama timnya yang menemukan pengaruh model pengasuhan orangtua terhadap perkembangan anak. Dalam penelitian yang dinamakan The Harvard Preschool Project itu, ditemukan perbedaan yang mencolok pada anak terkait dengan kemampuan orangtua mendesain lingkungan kondusif bagi anak, kemampuan berperan sebagai ‘konsultan’ dan kemampuan menyeimbangkan antara memberi kebebasan dan pembatasan bagi anak.
Tinggal di tengah-tengah lingkungan keluarga yang kondusif merupakan hak anak yang wajib dipenuhi orangtua. Keharmonisan keluarga menimbulkan dampak besar terhadap perkembangan kepribadian anak. Kenyamanan dan kehangatan yang dirasakan anak di tengah-tengah keluarganya akan membentuk sikap-sikap positif pada diri anak. Begitu pula cinta tulus dan kasih sayang yang ditunjukkan orangtua dan anggota keluarga lain akan meyakinkan anak bahwa ia dianggap penting dan akan memotivasinya untuk berbuat yang terbaik bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Menurut Stinnet & DeFrain, seperti dikutip Savitri Ramadhani dalam bukunya Building Positive Communication (2006:23), bahwa keluarga harmonis mempunyai karakteristik tertentu, yaitu kehidupan beragama yang baik di dalam keluarga, mempunyai waktu bersama antara sesama anggota keluarga, mempunyai komunikasi yang baik antar anggota keluarga, saling menghargai antara sesama anggota keluarga, masing-masing anggota keluarga merasa terikat dalam ikatan keluarga sebagai suatu ikatan kelompok dan ikatan kelompok ini bersifat erat dan kohesif, bila terjadi permasalahan dalam keluarga, maka masalah tersebut dapat diselesaikan secara positif dan konstruktif.
Penutup
Dari uraian di atas, terbaca jelas betapa pentingnya keharmonisan keluarga bagi perkembangan anak. Bahwa hubungan yang terjalin antar orangtua, orangtua dengan anak dan antar anak memberi pengaruh besar bagi pribadi anak.
Sebagai orang dewasa dengan pengalaman dan pengetahuan yang lebih dibanding anak, orangtua diharapkan dapat memberi yang terbaik bagi anak-anaknya. Kenyamanan dan kehangatan keluarga merupakan hak seluruh anggota keluarga, khususnya anak. Banyak nilai-nilai positif yang akan menjadi bagian pribadi anak jika hak tersebut terpenuhi dengan baik. Sebaliknya, ketidakharmonisan keluarga akan menjadi bumerang bagi perkembangan kepribadian anak. Tidak sedikit anak yang tumbuh menjadi pribadi pemurung, penyendiri, minderan atau mengidap prilaku negatif lainnya diakibatkan lingkungan keluarga yang tidak harmonis.
http://www.pkpa-indonesia.org/index.php?option=com_content&view=article&id=126:broken-home-wujud-pelanggaran-hak-anak&catid=58:artikel-aceh&Itemid=171
Salah satu hak anak yang tertuang dalam Konvensi Hak Anak (KHA) adalah mendapatkan lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif. Sebagai tempat tumbuh kembangnya anak, rumah menjadi institusi paling awal dan terpenting bagi anak. Saat anak tidak merasa nyaman di tengah-tengah keluarganya, dapat dipastikan ada masalah yang mengganggunya. Bukan untuk waktu sementara, masalah yang dialami anak di lingkungan keluarga pun akan berimbas pada kehidupannya di masa-masa berikutnya. Ketimpangan antara keadaan yang diharapkan anak dengan kenyataan yang dialaminya menjadi pemicu terganggunya perkembangan pribadi anak.
Akan mudah jika masalah itu datang dari diri anak, seperti rasa malas membantu anggota keluarga yang lain membersihkan rumah. Dengan teguran dan contoh yang baik (uswatun hasanah) dari orangtua, anak akan berubah dan dapat menyesuaikan diri dengan aturan keluarga tanpa merasa dipaksa melakukannya. Namun bila masalah dalam keluarga ditimbulkan orangtua yang seharusnya memberi kenyamanan, tentu akan lebih sulit penyelesaiannya. Egoisme orangtua kerap menjadi penghambat keharmonisan keluarga. Padahal merupakan hak anak untuk tumbuh di tengah-tengah keluarga yang mencintainya.
Dalam setiap kasus broken home, anak selalu menjadi atau dijadikan korban. Menjadi korban karena haknya mendapat lingkungan keluarga yang nyaman telah dilanggar. Dijadikan korban karena orangtua kerap melibatkan anak dalam konflik keluarga. Banyak orangtua yang saling tarik-menarik anak saat konflik berlangsung dengan alasan cinta. Dalam bingung, anak terombang-ambing antara dua orang yang mengaku paling menyayanginya. Adakah cinta orangtua yang tidak saling mencintai untuk anak yang membutuhkan cinta tulus?
Ironisnya, banyak diantara anak korban broken home yang memilih lari dari keluarganya dan bersahabat dengan narkoba atau hal-hal negatif lainnya. Dalam beberapa kasus, orangtua malah menyalahkan anak yang tidak bijak memilih pergaulan atau justru saling menyalahkan yang menambah beban pikiran anak. Jika dibiarkan, hal tersebut akan menghilangkan kepercayaan anak terhadap orangtua. Akhirnya, keberadaan orangtua tidak lagi dianggap penting oleh anak.
Lingkungan Kondusif bagi Anak
Dalam Building Positive Communication (2006:17), Savitri Ramadhani menuliskan hasil penelitian Burton L. White (1971) bersama timnya yang menemukan pengaruh model pengasuhan orangtua terhadap perkembangan anak. Dalam penelitian yang dinamakan The Harvard Preschool Project itu, ditemukan perbedaan yang mencolok pada anak terkait dengan kemampuan orangtua mendesain lingkungan kondusif bagi anak, kemampuan berperan sebagai ‘konsultan’ dan kemampuan menyeimbangkan antara memberi kebebasan dan pembatasan bagi anak.
Tinggal di tengah-tengah lingkungan keluarga yang kondusif merupakan hak anak yang wajib dipenuhi orangtua. Keharmonisan keluarga menimbulkan dampak besar terhadap perkembangan kepribadian anak. Kenyamanan dan kehangatan yang dirasakan anak di tengah-tengah keluarganya akan membentuk sikap-sikap positif pada diri anak. Begitu pula cinta tulus dan kasih sayang yang ditunjukkan orangtua dan anggota keluarga lain akan meyakinkan anak bahwa ia dianggap penting dan akan memotivasinya untuk berbuat yang terbaik bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Menurut Stinnet & DeFrain, seperti dikutip Savitri Ramadhani dalam bukunya Building Positive Communication (2006:23), bahwa keluarga harmonis mempunyai karakteristik tertentu, yaitu kehidupan beragama yang baik di dalam keluarga, mempunyai waktu bersama antara sesama anggota keluarga, mempunyai komunikasi yang baik antar anggota keluarga, saling menghargai antara sesama anggota keluarga, masing-masing anggota keluarga merasa terikat dalam ikatan keluarga sebagai suatu ikatan kelompok dan ikatan kelompok ini bersifat erat dan kohesif, bila terjadi permasalahan dalam keluarga, maka masalah tersebut dapat diselesaikan secara positif dan konstruktif.
Penutup
Dari uraian di atas, terbaca jelas betapa pentingnya keharmonisan keluarga bagi perkembangan anak. Bahwa hubungan yang terjalin antar orangtua, orangtua dengan anak dan antar anak memberi pengaruh besar bagi pribadi anak.
Sebagai orang dewasa dengan pengalaman dan pengetahuan yang lebih dibanding anak, orangtua diharapkan dapat memberi yang terbaik bagi anak-anaknya. Kenyamanan dan kehangatan keluarga merupakan hak seluruh anggota keluarga, khususnya anak. Banyak nilai-nilai positif yang akan menjadi bagian pribadi anak jika hak tersebut terpenuhi dengan baik. Sebaliknya, ketidakharmonisan keluarga akan menjadi bumerang bagi perkembangan kepribadian anak. Tidak sedikit anak yang tumbuh menjadi pribadi pemurung, penyendiri, minderan atau mengidap prilaku negatif lainnya diakibatkan lingkungan keluarga yang tidak harmonis.
http://www.pkpa-indonesia.org/index.php?option=com_content&view=article&id=126:broken-home-wujud-pelanggaran-hak-anak&catid=58:artikel-aceh&Itemid=171
Langganan:
Postingan (Atom)


